Banyaknya UMKM saat itu, kata Arifin, bagian dari efek masyarakat yang semakin mengenal Lontar Sewu dan mengunjunginya. Sebagian besar pengunjung berasal dari Lamongan, Bojonegoro, Tuban, dan Surabaya.
“Jumlah UMKM saat itu sempat membeludak. Kami sampai kesulitan mencarikan tempat untuk teman-teman. Di tahun 2022, 2023 masih berkisar seratusan. Sekarang jumlahnya menurun, tinggal sekitar 47 an. Makanya, kami sedang berusaha bagaimana bisa seperti dulu,” kata Arifin.
Menurut Arifin, salah satu faktor menurunnya jumlah pengunjung adalah muncul wisata serupa dengan konsep hampir sama yang disediakan di Lontar Sewu.
Mengenai berdirinya Wisata Lontar Sewu, terangnya, 2018 ada mahasiswa Unesa membawa program PHBD (Program Hibah Bina Desa).
“Karena kami punya pohon lontar banyak, kita arahkan untuk membikin konsep wisata. Pohon-pohon lontar kemudian dicat warna-warni,” kata Arifin.
Bermula dari sini muncul ide mendirikan Wisata Lontar Sewu saat mengikuti bursa inovasi desa tingkat kabupaten dan meraih juara 3.
Ajang perlombaan desa tingkat nasional paling bergengsi adalah PIIDPEL (Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pemberdayaan Ekonomi Lokal) pada tahun 2019. Berbagai persyaratan yang telah dilalui Desa Hendrosari, Wisata Lontar Sewu memenangi lomba dan mendapat bantuan keuangan sebesar Rp1,3 miliar.
Bertengger 5 besar Desa BRILian
Wisata Lontar Sewu kemudian masuk di ajang desa inovasi yang diselenggarakan BRI melalui Desa BRILian tahun 2024. Dari ketentuan yang telah disyaratkan perlombaan Desa BRILian, Wisata Lontar Sewu berhasil menduduki 5 besar.
Arifin menyampaikan, semua transaksi keuangan memakai BRI. Salah satunya adalah cara pembayaran menggunakan transaksi non tunai dengan QRIS. “Kalau rekening bank sebelum mengikuti lomba memang memakai BRI. Mengenai pembayaran non tunai melalui QRIS adalah hasil pendampingan BRI saat proses lomba,” ujarnya.
Diraihnya posisi 5 besar Desa BRILian merupakan pintu pembuka Wisata Lontar Sewu mendapat program lainnya. BRI semakin percaya terhadap manajemen pengelolaannya. Tahun 2025, BRI menyalurkan CSR sebesar Rp300 juta.
“Anggaran itu kami wujudkan berupa kanopi penunjang outbond, spot foto, branding gazebo, dan warung makan,” ucap Arifin. Dia menambahkan, BRI juga memberikan kulkas yang digunakan untuk menyimpan legen.
Adanya fasilitas penunjang itu, layanan kepada pengunjung tidak terkendala. Saat musim penghujan misalkan, pengunjung tetap dapat bermain karena ada kanopi. Sebelumnya, pengelola terpaksa menolak pengunjung.
Artikel Terkait
Program Desa BRILiaN Resmi Dimulai, BRI Gandeng Ribuan Desa untuk Ciptakan Wisata Unggulan Berbasis Kearifan Lokal
Paket Komplit! Wisata Sekaligus Belajar di Edu Wisata Lontar Sewu, Salah Satu Destinasi Wisata Populer di Jawa Timur
Asta Cita dan UMKM: Cara BRI Mendorong Pemerataan Ekonomi Nasional Lewat Desa BRILiaN, Klaster Usaha, dan Platform Digital