SketsaNusantara.id - Media sosial belum lama ini diramaikan dengan lagu viral "Mas Bahlil Ganteng" (MBG) hingga mendapat sorotan tajam dari psikolog yang dianggap bisa mengganggu fungsi kognitif seseorang.
Lagu tersebut sukses menghibur warganet sekaligus memancing rasa penasaran publik karena liriknya yang unik dan mudah melekat di kepala.
Fenomena lagu viral ini mulai meledak sejak hari Minggu, 24 Mei 2026, setelah sejumlah konten kreator mengunggah video reaksi saat mendengarkan lagu tersebut dengan diselingi meme lucu yang menampilkan kompilasi potongan ekspresi Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
"MBG, Mas Bahlil Ganteng. Buah apa yang paling manis? BUAHLIL, tambah ganteng aja my little bolu ketan," begitu salah satu potongan lirik yang kini ramai berseliweran di media sosial.
Lagu viral tersebut diketahui dibuat oleh akun TikTok @vokaliz_netizen, kreator yang dikenal sering menyulap komentar random netizen menjadi lagu dengan aransemen yang catchy dan mudah diingat.
Popularitasnya bahkan membuat lagu "Mas Bahlil Ganteng" kini telah didistribusikan secara resmi ke berbagai platform streaming digital seperti Spotify hingga YouTube Music.
Dengan mengusung ritme musik ceria, lagu tersebut juga dianggap menarik karena akronim "MBG" (sebelumnya identik dengan program pemerintah Makan Bergizi Gratis) yang kini bergeser menjadi "Mas Bahlil Ganteng".
Banyak yang menilai perubahan makna tersebut sebagai bentuk sindiran halus terhadap program MBG sekaligus personal branding yang terbentuk secara organik melalui media sosial.
Namun di balik viralnya lagu tersebut, psikolog bernama Roslina Verauli justru menyoroti dampak psikologis yang mungkin muncul akibat lagu viral semacam itu, terutama terhadap proses dan fungsi kognitif seseorang.
Lewat akun Instagram pribadinya, psikolog yang akrab disapa Mbak Vera itu menyebut lagu "Mas Bahlil Ganteng" sebagai earworm song, yakni lagu yang terus terngiang-ngiang di kepala tanpa disadari.
"Saya bukan psikolog politik, namun sebagai psikolog yang pernah mengampu mata kuliah psikologi kognitif selama belasan tahun, maka mendengarkan earworm song seperti lagu Mas Bahlil Ganteng berdampak pada pemrosesan kognitif kita loh," ujarnya, dikutip SketsaNusantara.id dari video yang diunggah di akun Instagram @verauli.id pada hari Minggu, 24 Mei 2026.
Dosen Universitas Tarumanegara Jakarta itu menjelaskan bahwa earworm song bekerja karena otak manusia sangat menyukai pola lagu yang mudah diingat. Akibatnya, lagu tertentu bisa terus berulang di dalam kepala dan tanpa sadar mengambil ruang memori otak.
Artikel Terkait
Sindir Bahlil? Felix Siauw Sampaikan Komentar Menohok soal 'Kabur Aja Dulu' yang Dibilang Gak Nasionalis, Singgung Masalah Keadilan di Indonesia
Gelar Doktor Bahlil Dibatalkan! Dewan Guru Besar UI Ungkap Sederet Pelanggaran Etik yang Dilakukan Menteri ESDM, Beneran Pakai Joki?
Rakyat Ngirit, Pejabat Melangit! Heboh Bahlil Lahadalia Kepergok Pelesiran ke Solo Pakai Jet Pribadi, Segini Harga Sewanya
Jurus Silat Lidah Bahlil di Balik Nikel Raja Ampat, Sebut Dirinya Belum Jadi Menteri saat Izin Diterbitkan
Bahlil Klaim Demokrasi Bukanlah Tujuan Negara, Sebut Pilkada Langsung Bisa Picu Cerai hingga Putus Silaturahmi
Bahlil Imbau Warga Hemat Energi Secara Bijak, Langkah Sederhana Wujudkan Ketahanan di Tengah Dinamika Global