"Seolah-olah lagu ini berulang-ulang terus di kepala kita, kayak stuck gitu. Maklum, otak sangat menyukai pola-pola yang familiar, pola-pola yang ringan, easy listening," jelasnya
Dalam unggahannya, Vera mencermati adalah adanya priming effect, yakni efek psikologis setelah mendengar lagu viral. Ia mengingatkan bahwa pengaruh lagu viral kemudian menjadi stimulus awal dan memengaruhi cara seseorang menerima informasi berikutnya.
"Kalimat Mas Bahlil dalam lirik lagu viral itu selalu dikaitkan dengan ganteng, imut, lucu, positif. Bahkan rasanya kayak nggak threatening sama sekali," ucapnya.
"Ketika suatu saat nanti kita mendengar kata Bahlil, entah lewat berita nasional atau media sosial, maka otak punya kecenderungan mengeluarkan lebih dulu asosiasi positif tentang Bahlil," terangnya.
Vera bahkan menyebut efek lagu viral tersebut yang dapat bekerja hingga level implicit memory atau memori bawah sadar. Akibatnya, seseorang bisa merasa familiar atau memiliki kesan positif terhadap figur tertentu tanpa alasan logis yang benar-benar disadari.
Psikolog yang akrab disapa Vera itu juga menyinggung kemungkinan dampak fenomena tersebut dalam konteks politik elektoral di Indonesia. Ia menduga ada maksud politis di balik lagu 'MBG' yang kini viral di media sosial.
"Yang menarik, akronim MBG Makan Bergizi Gratis jadi akronim baru Mas Bahlil Ganteng. Jadi personal branding. Ada proses reakronimisasi di dalamnya," tambahnya.
"Kita sadar betul saat memilih pemimpin, masyarakat sering dipengaruhi aspek emosional, bukan analisis mendalam. Apakah ini upaya nyolong start pilpres mendatang?" ujarnya.
Baca Juga: Sering Tak Sadar Main HP Terlalu Lama? Waspadai Dampak Doomscrolling pada Kesehatan Mental
Menyadari dampak fenomena viral yang ikut mempengaruhi pola pikir seseorang, Vera ikut memberikan antidots atau cara sederhana agar masyarakat tidak terlalu terpengaruh oleh efek lagu viral yang terus terngiang-ngiang di kepala.
"Dengarkan, nikmati seperlunya dan tertawalah. Namun secara sadar pertanyakan pada diri sendiri, framing seperti apa yang sedang dilakukan tentang orang dalam lagu tersebut? Apakah saya menerimanya?" katanya.
Melalui unggahan tersebut, Vera ingin menekankan pentingnya kesadaran masyarakat agar tidak mudah terbawa efek priming dari lagu viral, yang bisa merubah penilaian terhadap figur publik atau tokoh politik tertentu.
"Earworm song yang disisipi priming figur politik dapat memengaruhi proses kognitif tanpa disadari. Bahkan mengubah cara kita menghayati sesuatu. Dari nggak kenal jadi familiar, bahkan bisa jadi suka tanpa alasan logis," pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Sindir Bahlil? Felix Siauw Sampaikan Komentar Menohok soal 'Kabur Aja Dulu' yang Dibilang Gak Nasionalis, Singgung Masalah Keadilan di Indonesia
Gelar Doktor Bahlil Dibatalkan! Dewan Guru Besar UI Ungkap Sederet Pelanggaran Etik yang Dilakukan Menteri ESDM, Beneran Pakai Joki?
Rakyat Ngirit, Pejabat Melangit! Heboh Bahlil Lahadalia Kepergok Pelesiran ke Solo Pakai Jet Pribadi, Segini Harga Sewanya
Jurus Silat Lidah Bahlil di Balik Nikel Raja Ampat, Sebut Dirinya Belum Jadi Menteri saat Izin Diterbitkan
Bahlil Klaim Demokrasi Bukanlah Tujuan Negara, Sebut Pilkada Langsung Bisa Picu Cerai hingga Putus Silaturahmi
Bahlil Imbau Warga Hemat Energi Secara Bijak, Langkah Sederhana Wujudkan Ketahanan di Tengah Dinamika Global