Arifah menegaskan, pengembangan ini tidak hanya berorientasi pada aspek teoritis. Tetapi, ucapnya, merupakan jawaban kebutuhan praktis di lapangan. Oleh karena itu, sambung dia, keterlibatan guru BK sebagai praktisi sangat diperlukan agar model yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan konteks sekolah dan kebutuhan siswa.
“Masukan dari guru BK sangat penting karena mereka memahami kondisi nyata siswa di sekolah. Melalui kegiatan ini, model dapat diperbaiki agar lebih aplikatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan layanan konseling,” ujar narasumber sekaligus peneliti tersebut.
Kegiatan ini juga mendorong penerapan layanan konseling yang kontekstual dan bernilai religius. Dalam konteks pendidikan, guru BK memiliki peran strategis dalam memberikan dukungan psikologis kepada siswa, terutama bagi mereka yang mengalami pengalaman traumatis.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Manten Sapi di Pasuruan, Ritual Unik Idul Adha yang Sarat Makna Religi dan Budaya
Dengan pendekatan yang tepat, layanan konseling diharapkan dapat menjadi ruang aman bagi siswa untuk memulihkan diri dan membangun kembali kepercayaan terhadap dirinya.
Ia juga berharap para guru BK di kabupaten Jombang memperoleh pemahaman baru mengenai penerapan model konseling ini.
“Harapan lain semoga menjadi salah satu kontribusi akademik dan praktis dalam pengembangan layanan bimbingan dan konseling. Khususnya untuk mendampingi siswa korban kekerasan seksual secara lebih sensitif, etis, dan bermakna,” pungkas Arifah.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Cegah Pernikahan Dini, Mahasiswa UIN KHAS Jember Berikan Konseling ke Puluhan Remaja Banyuwangi
Universitas Padjajaran Resmi Nonaktif Guru Besar yang Diduga Pelaku Kekerasan Seksual
Gus Ipul Minta Pelaku Kekerasan Seksual di Ponpes Ndolo Kusumo Pati Dihukum Seumur Hidup, Negara Janji Lindungi Korban