Perbedaan harga tersebut kemudian menjadi perhatian tim pemeriksa. Sebab, nilai barang di negara tujuan tercatat jauh lebih tinggi dibanding harga ekspor dari Indonesia.
Menurut Purbaya, rata-rata harga barang di negara tujuan mencapai dua kali lipat dibanding harga yang tercatat dari Indonesia ke Singapura. Selisih itu disebut berpotensi mengurangi penerimaan negara dalam jumlah besar.
Selain sektor CPO, pola serupa juga ditemukan dalam ekspor batu bara ke India. Meski belum memeriksa banyak perusahaan, tim menemukan indikasi pola transaksi yang hampir sama.
Pemerintah kini terus melakukan penelusuran terhadap dugaan praktik tersebut. Pengawasan dilakukan untuk memastikan transaksi ekspor berjalan sesuai aturan dan potensi penerimaan negara tidak hilang.
Jogja Financial Festival dan isu literasi ekonomi yang belakangan menguat juga membuat perhatian publik terhadap tata kelola keuangan semakin besar. Dugaan praktik under invoicing pun menjadi salah satu isu yang kini banyak dibahas masyarakat.
Pemerintah belum mengumumkan identitas perusahaan yang diperiksa dalam penelusuran tersebut. Namun, hasil investigasi awal itu menjadi perhatian karena melibatkan komoditas ekspor utama Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
4 Fakta Pengadaan Motor Listrik untuk Kepala SPPG, Jumlah Unit dan Klarifikasi Kepala BGN hingga Menkeu Purbaya
Purbaya Yudhi Sadewa Kaget Isu Pengadaan Puluhan Ribu Motor Listrik SPPG: Sudah Beli?
Diisukan Masuk Rumah Sakit, Purbaya Malah Asyik Renang dan Habiskan Waktu Long Weekend dengan Jalan Santai di Mall, Kemenkeu Pastikan Kondisinya Sehat
Berangkat Haji Tahun Ini, Purbaya Doakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Makin Bagus, Akui Ingin Tambahkan Nama Baru Setelah Pulang dari Tanah Suci
Purbaya Bantah Jalan Sendiri tanpa Arahan Prabowo, Singgung Dana Rp200 Triliun hingga ‘Disikat’ jika Membangkang