SketsaNusantara.id - Di wilayah tambang, cerita tentang Penambang Tanpa Izin atau PETI bukanlah hal asing. Aktivitas ini kerap menjadi pilihan hidup di tengah keterbatasan ekonomi. Namun di Pongkor, Kabupaten Bogor, perubahan perlahan mulai terjadi.
Kesadaran baru tumbuh di tengah masyarakat. Banyak mantan PETI mulai memikirkan masa depan yang lebih aman. Risiko tinggi dan ketidakpastian hidup mendorong mereka mencari jalan berbeda.
Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, menjadi salah satu contoh nyata perubahan itu. Kawasan yang berada di bentang Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini pernah berada dalam tekanan sosial dan ekonomi yang berat.
Pada masa lalu, sebagian warga menggantungkan hidup pada pembalakan liar dan penambangan ilegal. Hutan menjadi ruang rentan. Masyarakat hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian.
Di tengah kondisi itu, Hendrik mulai bergerak. Ia mengajak warga membangun kembali desa agar memberi manfaat jangka panjang. Upaya ini dimulai dengan menguatkan Kelompok Model Kampung Konservasi Cisangku.
“Di Pongkor dulu isu penambang liar itu seperti hal yang biasa terdengar. Banyak orang melihatnya sebagai pilihan hidup, tapi semakin dijalani, saya merasa itu bukan sesuatu yang baik untuk jangka panjang. Risiko besar, hasil tidak pasti, hidup juga penuh rasa khawatir,” ujar Hendrik.
Perubahan orientasi itu diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak. Salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat PT Antam (Persero) Tbk UBPE Pongkor. Melalui Program Pepeling Cisangku, warga dikenalkan pada alternatif mata pencaharian berbasis konservasi.
Kegiatan yang dikembangkan meliputi persemaian bibit endemik, produksi pupuk bokashi, serta inovasi pupuk hayati mikoriza. Lahan yang dulu menjadi lokasi PETI kini berubah menjadi area pembibitan tanaman.
Aktivitas warga pun bergeser. Jika sebelumnya menggali tanah, kini mereka menanam dan merawat. Perubahan ini menghadirkan stabilitas baru serta rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang kami belajar melihat alam dengan cara yang berbeda. Dulu mungkin orang berpikir bagaimana mengambil dari hutan. Sekarang kami justru merawat dan menanam. Ada rasa bangga ketika melihat pohon tumbuh di tempat yang dulu rusak,” lanjut Hendrik.
Transformasi tidak hanya terjadi di Cisangku. Di Kampung Parigi, Desa Cisarua, kisah serupa tumbuh melalui sosok Sudin atau Kang Gemer. Ia pernah menjalani kehidupan sebagai gurandil selama bertahun-tahun.
Perjalanan waktu membawa refleksi mendalam. Kang Gemer akhirnya memutuskan beralih profesi melalui Program Sistem Pengembangan Usaha dan Perlindungan Lingkungan Cisarua atau Sundung Cisarua.
Artikel Terkait
Vonis Makin Berat! Skandal Korupsi Emas Antam Seret Nama Budi Said dan Para Mantan Pejabat
Update Kasus ANTAM! Saksi Kunci Bongkar Rekayasa Kasus Kekurangan Emas Hasil Rekayasa Budi Said
MIND ID Wujudkan Hilirisasi Emas: 125 Kg Emas Batangan Freeport Dikirim ke ANTAM
Profil PT Gag Nikel, Anak Perusahaan PT Antam BUMN yang Kantongi Izin Penambangan Nikel di Raja Ampat
Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Harga Emas Antam Rp2,06 Juta per Gram Disertai Stok yang Tak Tersedia