Minggu, 19 Juli 2026

Dari Lubang Tambang ke Ladang Harapan: Kisah Mantan PETI di Pongkor yang Berubah Total, Bangun Desa, Pulihkan Alam, dan Ciptakan Hidup Baru

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 1 Maret 2026 | 22:28 WIB
Warga di Pongkor, Bogor. (Dok. ANTAM)
Warga di Pongkor, Bogor. (Dok. ANTAM)

SketsaNusantara.id - Di wilayah tambang, cerita tentang Penambang Tanpa Izin atau PETI bukanlah hal asing. Aktivitas ini kerap menjadi pilihan hidup di tengah keterbatasan ekonomi. Namun di Pongkor, Kabupaten Bogor, perubahan perlahan mulai terjadi.

Kesadaran baru tumbuh di tengah masyarakat. Banyak mantan PETI mulai memikirkan masa depan yang lebih aman. Risiko tinggi dan ketidakpastian hidup mendorong mereka mencari jalan berbeda.

Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, menjadi salah satu contoh nyata perubahan itu. Kawasan yang berada di bentang Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini pernah berada dalam tekanan sosial dan ekonomi yang berat.

Baca Juga: Program Berkelanjutan ANTAM di Pongkor Dorong Kesejahteraan Sosial, Pemulihan Lingkungan, dan Ekonomi Desa

Pada masa lalu, sebagian warga menggantungkan hidup pada pembalakan liar dan penambangan ilegal. Hutan menjadi ruang rentan. Masyarakat hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian.

Di tengah kondisi itu, Hendrik mulai bergerak. Ia mengajak warga membangun kembali desa agar memberi manfaat jangka panjang. Upaya ini dimulai dengan menguatkan Kelompok Model Kampung Konservasi Cisangku.

“Di Pongkor dulu isu penambang liar itu seperti hal yang biasa terdengar. Banyak orang melihatnya sebagai pilihan hidup, tapi semakin dijalani, saya merasa itu bukan sesuatu yang baik untuk jangka panjang. Risiko besar, hasil tidak pasti, hidup juga penuh rasa khawatir,” ujar Hendrik.

Baca Juga: Program Garitan Kalongliud ANTAM Buktikan Pertanian Sirkular Mampu Tingkatkan Pendapatan Petani hingga 65 Persen

Perubahan orientasi itu diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak. Salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat PT Antam (Persero) Tbk UBPE Pongkor. Melalui Program Pepeling Cisangku, warga dikenalkan pada alternatif mata pencaharian berbasis konservasi.

Kegiatan yang dikembangkan meliputi persemaian bibit endemik, produksi pupuk bokashi, serta inovasi pupuk hayati mikoriza. Lahan yang dulu menjadi lokasi PETI kini berubah menjadi area pembibitan tanaman.

Aktivitas warga pun bergeser. Jika sebelumnya menggali tanah, kini mereka menanam dan merawat. Perubahan ini menghadirkan stabilitas baru serta rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekarang kami belajar melihat alam dengan cara yang berbeda. Dulu mungkin orang berpikir bagaimana mengambil dari hutan. Sekarang kami justru merawat dan menanam. Ada rasa bangga ketika melihat pohon tumbuh di tempat yang dulu rusak,” lanjut Hendrik.

Transformasi tidak hanya terjadi di Cisangku. Di Kampung Parigi, Desa Cisarua, kisah serupa tumbuh melalui sosok Sudin atau Kang Gemer. Ia pernah menjalani kehidupan sebagai gurandil selama bertahun-tahun.

Perjalanan waktu membawa refleksi mendalam. Kang Gemer akhirnya memutuskan beralih profesi melalui Program Sistem Pengembangan Usaha dan Perlindungan Lingkungan Cisarua atau Sundung Cisarua.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X