Senin, 20 Juli 2026

Tanggapan Istana Terkait Teror terhadap Ketua BEM UGM, Mensesneg Ingatkan soal Etika Penyampaian Kritik di Tengah Sorotan soal Kebebasan Berpendapat

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Kamis, 19 Februari 2026 | 12:00 WIB
Potret Mensesneg Prasetyo Hadi tanggapi teror terhadap Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM yang diteror usai kritik pemerintah (kolase Instagram/prasetyo_hadi28/tiyoardianto_)
Potret Mensesneg Prasetyo Hadi tanggapi teror terhadap Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM yang diteror usai kritik pemerintah (kolase Instagram/prasetyo_hadi28/tiyoardianto_)

"Kalau teror kita enggak tahu siapa yang melakukan itu," kata Prasetyo ketika doorstop di hadapan awak media pada hari Rabu, 18 Februari 2026, dikutip SketsaNusantara.id dari video yang diunggah akun X @P3g3L.

Dalam kesempatan itu, Prasetyo Hadi juga mengingatkan soal etika dalam penyampaian kritik di tengah sorotan publik terkait kebebasan berpendapat.

Baca Juga: 4 Poin Penting Putusan MK: UU ITE Tidak Bisa Lagi Digunakan Pemerintah untuk Matikan Kritik, Menjamin Kebebasan Berpendapat di Media Sosial

"Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja, tetapi kita mengimbau kepada semuanya ya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan menjawab juga, dia juga mengedepankan etika, adat-adat ketimuran," tuturnya.

"Jadi, menyampaikan pendapatnya enggak ada masalah, tapi caranya itu kan juga perlu menjadi pelajaran bagi kita semua," lanjutnya.

Sebagai alumnus UGM yang juga pernah aktif di BEM, Prasetyo menyatakan bahwa menyampaikan kritik atau masukan adalah hal yang sah dalam demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik tetap disampaikan dengan mengedepankan etika dan adab.

"Bagi kita semua, misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Ini berlaku untuk siapapun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM," pesannya.

Baca Juga: 5 Isi Surat BEM UGM ke UNICEF: Soroti Tragedi Bocah NTT sebagai Kegagalan Sistem, Kritik Kebijakan Pemerintah hingga Sindiran Pedas ke Presiden

Dalam surat terbuka yang dikirimkan ke UNICEF, Tiyo mengkritik keras pemerintah termasuk menyingung soal program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang lebih diprioritaskan ketimbang memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

"Akar penyebab dari tragedi ini adalah egoisme individu dan politik dari Presiden kita yang sombong, Prabowo Subianto," tulis Tiyo dalam suratnya.

"Bukannya memprioritaskan anggaran untuk memperbaiki kesetaraan dan keadilan sistemik, ia justru sengaja memotong anggaran pendidikan untuk kebijakan yang berbiaya tinggi, berisiko bencana, dan berpotensi keracunan makanan yang disebut Makan Bergizi Gratis," tandasnya.

Mahasiswa Jurusan Ilmu Filsafat UGM itu juga mendesak UNICEF meningkatkan advokasi perlindungan anak di Indonesia, termasuk mendorong kebijakan yang lebih kuat terkait anggaran pendidikan dan kesejahteraan anak.

Ia bahkan melontarkan kritik keras kepada Presiden dan berharap agar tragedi bocah di NTT tak terulang kembali akibat kegagalan kebijakan pemerintah.

"Bantu kami untuk memberi tahu Prabowo Subianto betapa bodohnya dia sebagai Presiden. Kebodohannya telah menimbulkan masalah fundamental yang berujung pada hilangnya nyawa yang tidak berdosa, sebuah kejahatan kemanusiaan yang tidak termaafkan," pungkasnya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X