Sementara itu, Prambanan berdiri sebagai kompleks Hindu. Jumlah dan kemegahan bangunan Buddha jauh lebih dominan dibandingkan yang beraliran Hindu.
Hal ini menandakan bahwa ajaran Buddha menjadi kepercayaan utama keluarga Sailendra dan sebagian besar masyarakat Mataram kala itu.
“Dilihat dari ukuran dan jumlahnya, bangunan suci ajaran Buddha lebih banyak jika dibandingkan dengan bangunan suci ajaran Hindu,” demikian tertulis dalam catatan sejarah.
Bukti-bukti tersebut memperlihatkan bahwa Mataram pada masa Sailendra merupakan pusat kebudayaan Buddha di Asia Tenggara.
Dari Jawa hingga India: Jaringan Diplomasi dan Spiritualitas
Pengaruh keluarga Sailendra ternyata tidak berhenti di Tanah Jawa. Catatan sejarah menunjukkan bahwa mereka juga memiliki hubungan erat dengan wilayah luar Nusantara, termasuk Sumatra, Thailand Selatan, dan India Utara.
Pada masa pemerintahan Rakay Panamkaran, dinasti ini membangun Thsamaya Chaitya di kawasan Nakhonsritammarat, Thailand Selatan.
Informasi ini tercatat dalam Prasasti Ligor yang berasal dari abad ke-8 Masehi. Hubungan lintas wilayah tersebut menggambarkan luasnya pengaruh politik dan spiritual Sailendra di Asia.
Koneksi itu berlanjut melalui Balaputra, cucu Rakay Panamkaran yang kemudian memerintah di Sriwijaya.
Ia tercatat mendirikan asrama dan wihara di Nalanda, India, serta memberikan tanah perdikan bagi para pelajar asal Sriwijaya yang menuntut ilmu di sana. Informasi penting ini tertulis dalam Prasasti Nalanda yang dikeluarkan oleh Raja Dewapaladewa dari India pada abad ke-9 Masehi.
Pusat Peradaban Mataram yang Subur dan Terbuka
Kerajaan Mataram di bawah dinasti Sailendra berpusat di daerah subur lembah Sungai Progo dan Elo. Wilayah ini diapit oleh gunung-gunung besar seperti Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro. Perekonomian Mataram bertumpu pada hasil pertanian, terutama padi.
Namun, aspek kebaharian juga mendapat perhatian besar. Hal itu terlihat dari relief perahu dan kapal di Candi Borobudur, yang menunjukkan aktivitas pelayaran di sungai dan laut. Dari sinilah muncul dugaan bahwa Sailendra memiliki jalur perdagangan dan hubungan maritim yang luas hingga ke luar Jawa.
Warisan yang Tak Pudar oleh Waktu
Kisah keluarga Sailendra adalah potret tentang kebesaran peradaban Nusantara yang berakar kuat namun berpandangan luas. Dari Sumatra ke Jawa, dari Thailand hingga India, pengaruh mereka melampaui batas geografis dan budaya.
Artikel Terkait
Gelontorkan Biaya Hidup untuk Sang Anak Sampai Ratusan Juta Setiap Bulan, Terkuak Sumber Kekayaan Roro Fitria, Keturunan Kerajaan?
Desa Paling Tua di Jember? Punya Kisah Masa Lalu yang Berkaitan dengan Asmara, Nasib Kelam Dialami Seorang Putra Kerajaan
Akibat Takdir Mimpi Bertemu Rasulullah SAW hingga 3 Kali, Tokoh Wali Songo ini Lahir dari 2 Kerajaan Besar
Anggun dan Menawan! Dian Sastro Tampil Bak Putri Kerajaan Korea di Istana Gyeongbokgung dengan Balutan Hanbok Tradisional
Jaraknya 73 KM dari Candi Prambanan, Pemandian Air Hangat Ini Usianya 400 Tahun Lebih Tua dari Kerajaan Majapahit, di Mana?