Sabtu, 18 Juli 2026

Siapa yang Kendalikan Whoosh? Mahfud MD Ungkap Pejabat Strategis Proyek Didominasi China Meski Saham RI 60 Persen

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 19:30 WIB
Mahfud MD bongkar proyek Whoosh. (Instagram @mahfudmd)
Mahfud MD bongkar proyek Whoosh. (Instagram @mahfudmd)

SketsaNusantara.id - Polemik proyek Kereta Cepat IndonesiaChina (KCIC) atau Whoosh kembali memanas.

Setelah KAI mengakui bahwa pembayaran bunga utang proyek ini telah mencapai Rp2 triliun, muncul pertanyaan besar soal siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dalam kerja sama ini.

Dari laporan keuangan, total pendapatan tiket disebut sekitar Rp5 triliun, sedangkan total utang proyek menembus Rp116 triliun.

Baca Juga: Di Balik Utang Rp116 Triliun Proyek Whoosh, Mahfud MD Singgung Pengaruh China hingga Risiko Hukum

Situasi ini semakin panas setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tidak akan menggunakan dana APBN untuk menutup utang membengkak tersebut.

Di tengah kisruh tersebut, Mahfud MD kembali bersuara. Melalui kanal YouTube Mahfud MD Official pada Jumat malam, 24 Oktober 2025, mantan Menko Polhukam itu mengingatkan kembali dugaan adanya mark up dalam pengadaan proyek KCIC.

Ia menyebutkan bahwa temuan tersebut mengacu pada pendapat Agus Pambagio dan Anthony Budiawan, dua pengamat yang sejak awal menyoroti transparansi proyek Whoosh.

Baca Juga: China Bela Proyek Whoosh di Tengah Sorotan Utang, Tegaskan Siap Fasilitasi dan Dorong Ekonomi Indonesia

Pekerja Strategis Didominasi China

Dalam video yang sama, Mahfud menyoroti komposisi tenaga kerja di proyek KCIC yang menurutnya tidak mencerminkan keseimbangan.

Ia mengutip tulisan mantan Direktur YLBHI Agustinus Edy Kristianto (AEK) empat tahun lalu yang menilai proyek Whoosh sebagai “bom waktu yang siap meledak.”

“Ada beberapa hal yang bisa dinukil dari tulisan AEK ini. Begini, dalam proyek itu saham Indonesia sebesar 60 persen dan China 40 persen,” kata Mahfud.

Namun, lanjutnya, meski saham Indonesia lebih besar, posisi penting justru dikuasai tenaga kerja dari China. “Pejabat strategisnya didominasi oleh pihak China seperti presiden komisaris, direktur keuangan, dan direktur tekniknya,” imbuhnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X