Kamis, 4 Juni 2026

Proses Identifikasi Korban Ponpes Al Khoziny Berjalan Lambat, Tim DVI Hadapi Kendala Data Sidik Jari

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 4 Oktober 2025 | 08:30 WIB
Tragedi Ponpes Al Khoziny, tim forensik minta dukungan keluarga untuk percepat identifikasi (X/@YahyaCStaquf)
Tragedi Ponpes Al Khoziny, tim forensik minta dukungan keluarga untuk percepat identifikasi (X/@YahyaCStaquf)

SketsaNusantara.id – Proses identifikasi jenazah korban ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, masih terus dilakukan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim di RS Bhayangkara Surabaya.

Hingga Jumat 3 Oktober 2025, delapan jenazah sudah diterima pihak rumah sakit, dengan lima di antaranya selesai diperiksa dan tiga lainnya menunggu giliran.

Karodok Polusdokes Polri, Brigjen Pol Nyoman Edi Purnama, menjelaskan bahwa setiap jenazah diperiksa secara teliti melalui metode postmortem. Prosesnya tidak singkat, karena setiap tubuh korban diperiksa dari ujung kepala hingga kaki, termasuk kondisi pakaian serta tanda-tanda khusus.

Baca Juga: Identifikasi Korban Ambruknya Bangunan Mushola Ponpes Al Khoziny Terkendala, Sidik Jari Rusak dan Data Minim Jadi Hambatan

“Untuk satu jenazah, pemeriksaan rata-rata memakan waktu sekitar satu jam,” ungkap Brigjen Nyoman dalam keterangannya.

Setelah pemeriksaan awal, tahapan selanjutnya adalah rekonsiliasi data. Informasi ante mortem dari keluarga korban dicocokkan dengan hasil pemeriksaan tim medis. Data ini mencakup ciri fisik, tanda lahir, hingga kebiasaan atau detail khusus yang dapat membantu memastikan identitas korban.

Namun, proses ini tidak lepas dari berbagai hambatan. Salah satunya adalah kondisi jenazah yang mengalami kerusakan akibat waktu yang cukup lama sejak insiden terjadi. Hal ini menyulitkan tim dalam mengandalkan metode identifikasi primer.

Baca Juga: 4 Fakta Terbaru Evakuasi Korban Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Tim SAR Pakai Alat Berat Usai Lewat Golden Time

“Sebagian besar korban masih berusia belasan tahun, sehingga tidak memiliki data sidik jari di sistem kependudukan. Sementara kondisi gigi mereka juga relatif seragam, sehingga tidak banyak memberi perbedaan,” jelas Brigjen Nyoman.

Dalam kondisi ini, identifikasi lewat tanda sekunder seperti bekas luka, pakaian, hingga ciri-ciri khusus tubuh menjadi penting. Kendati demikian, faktor keseragaman seragam para santri yang rata-rata mengenakan baju putih dan sarung juga memperlambat proses pencocokan.

Tim DVI berharap peran aktif keluarga dapat membantu mempercepat identifikasi, misalnya dengan memberikan data tambahan berupa foto, rekam medis, atau informasi detail tentang korban.

Baca Juga: Update Evakuasi Runtuhnya Bangunan di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, BNPB Pakai Alat Berat hingga Jumlah Korban Hilang

“Dukungan keluarga sangat krusial untuk melengkapi data kami,” tambah Nyoman.

Tragedi Ponpes Al Khoziny masih menyisakan duka mendalam, terutama bagi keluarga yang menanti kepastian identitas anak dan kerabat mereka. Sementara itu, proses identifikasi terus diupayakan agar pemulangan jenazah bisa segera dilakukan dengan layak dan sesuai kehendak keluarga masing-masing.***

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X