SketsaNusantara.id – Tim Pusdokkes Polri masih terus bekerja keras mengidentifikasi korban meninggal akibat runtuhnya bangunan mushola Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur.
Hingga Jumat 3 Oktober 2025, delapan jenazah telah dievakuasi dan ditempatkan di RS Bhayangkara Surabaya untuk menjalani serangkaian pemeriksaan forensik.
Karodokpol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol dr Nyoman Eddy Purnama, mengungkapkan bahwa lima jenazah telah selesai diperiksa, sementara tiga lainnya sedang dalam tahap persiapan identifikasi. Menurutnya, proses yang dilakukan tim forensik tidak hanya sebatas pemeriksaan fisik, tetapi juga rekonsiliasi data antara temuan medis dan informasi yang diberikan keluarga korban.
“Rekonsiliasi adalah tahap akhir. Kami mencocokkan hasil pemeriksaan dengan data yang disampaikan keluarga, baik berupa ciri-ciri fisik, riwayat medis, maupun informasi lainnya,” ujar Brigjen Nyoman, dilansir SketsaNusantara.id dari YouTube Kompas TV
Meski begitu, pekerjaan lapangan tersebut tidak berjalan mulus. Salah satu hambatan terbesar adalah kondisi jenazah yang tidak lagi memungkinkan penggunaan metode identifikasi primer seperti sidik jari.
“Sebagian besar sidik jari korban sudah rusak, sehingga sulit dipakai sebagai pembanding,” jelasnya.
Selain sidik jari, tim forensik juga mencoba memanfaatkan struktur gigi. Namun cara ini juga menemui kesulitan karena mayoritas korban masih berusia remaja, sehingga tidak memiliki perawatan gigi khusus atau perbedaan mencolok yang bisa dijadikan identitas.
“Untuk anak-anak usia 12 sampai 13 tahun, data sidik jarinya pun belum masuk dalam database nasional. Itu membuat proses pencocokan lebih lama,” tambahnya.
Dalam kondisi seperti ini, metode lain pun harus digunakan. Tim telah mengambil sampel DNA dari seluruh jenazah untuk kemudian dibandingkan dengan sampel keluarga. Akan tetapi, proses laboratorium DNA membutuhkan waktu lebih panjang. Sementara itu, identifikasi sekunder melalui tanda lahir, bekas luka, hingga barang pribadi juga dilakukan.
Sayangnya, seragam para santri yang nyaris membuat pembeda visual semakin minim. Brigjen Nyoman menekankan pentingnya dukungan dari keluarga korban untuk mempercepat proses ini.
“Kami harap keluarga dapat menyerahkan foto, rekam medis, atau keterangan detail lain. Misalnya bekas luka, kebiasaan fisik, atau ciri khas lain yang bisa membantu,” katanya.
Artikel Terkait
7 Sikap Cak Imin tentang Razia Pesantren ‘Sesat’, Bentuk Satgas Khusus Usut Pencabulan di Lingkungan Ponpes
Viral! Begini Kronologi Santri di Bawah Umur Dicambuk Pengasuh Ponpes hingga Luka Parah dan Infeksi, Polres Malang Segera Tetapkan Tersangka
Mencekam! Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Ambruk Saat Sholat, Jeritan Terdengar dari Ratusan Santri yang Terjebak Reruntuhan
Update Korban Robohnya Masjid Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Puluhan Santri Terjebak, Ada yang Meninggal Dunia?
Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf Datangi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Takziah hingga Sowan ke Pengasuhx, Gus Yahya: Mari Kita...