Minggu, 19 Juli 2026

Gelar Lailatul Ijtima’, MWCNU di Jombang Ini Teruskan Tradisi Mu'assis NU

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Senin, 22 September 2025 | 06:50 WIB
Pengasuh Pesantren Al-Masruriyah Tebuireng Gus Mirza saat menyampaikan pengajiannya. (SketsaNusantara.id)
Pengasuh Pesantren Al-Masruriyah Tebuireng Gus Mirza saat menyampaikan pengajiannya. (SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Ratusan jamaah memadati Masjid Babussalam Desa Pundong Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Minggu (21/9) malam. Mereka mengikuti kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Diwek.

Acara tersebut dihadiri jajaran pengurus MWCNU Diwek, Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Diwek, lembaga serta badan otonom (banom). Tampak hadir Wakil Ketua PCNU Jombang, KH Nurul Fuad, serta pengasuh Pesantren Al-Masruriyah Tebuireng, H. Varis Muhammad Mirza (Gus Mirza).

Hadir pula Rais Syuriah Ranting NU Pundong KH Iftahurrohman, Abdul Ghofur selaku Ketua Tanfidziyah Ranting NU beserta jajarannya. Tampak pula Kepala Desa Pundong Dea Asri Handayani dan perangkat desa setempat.

Baca Juga: 1 Bulan Nggak Ngantor, Warga Laporkan Bupati Buton Alvin Akawijaya Putra Sebagai Orang Hilang, Ternyata di Jakarta?

Rangkaian kegiatan dimulai setelah jamaah shalat Isya dengan shalat-shalat sunnah berjamaah. Lalu dilanjutkan dengan istighotsah yang dipimpin KH Nurul Fuad. Sesi pembacaan shalawat dipandu oleh tim dari IPNU-IPPNU Pundong.

Selaku Ketua MWCNU Diwek, KH Hamdi Sholeh mengingatkan jamaah agar terus menjaga amaliyah para muassis NU.

“Jangan hanya mau nggandoli sarungnya Mbah Hasyim Asy'ari saja. Selama raga masih kuat, sebisa mungkin tetap melakukan amaliyah-amaliyah para muassis,” pesannya.

Lailatul ijtima, lanjutnya, adalah tradisi lelakon dari para pendiri NU. "Jadi sudah sangat pas kalau kita meneruskan amaliyah-amaliyah para muasis NU lewat lailatu ijtima' ini," imbuhnya.

Baca Juga: Prabowo Bagikan 330 Ribu Smart TV untuk Sekolah: Program Digitalisasi Pendidikan Demi Pemerataan Akses Belajar di Seluruh Indonesia

Sementara itu, dalam mauidhoh hasanahnya, Gus Mirza menyampaikan analogi menarik tentang kedekatan seorang muslim dengan Nabi Muhammad. “Hubungan dengan Nabi Muhammad itu ibarat WhatsApp. Setiap kita membaca satu shalawat, Nabi akan mendapatkan notifikasi,” ujarnya disambut senyum jamaah.

Cicit Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari ini juga meneladankan kisah sahabat Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang rela menginfakkan seluruh hartanya demi perjuangan Islam. “Ketika ditanya Rasul perihal alasannya, Abu Bakar menjawab, ‘Cukuplah Allah dan Rasulullah yang membekali kami’,” tuturnya.

Pengasuh Pesantren Al-Masruriyah Tebuireng ini mengajak jamaah untuk terus cinta kepada Nabi. "Membaca shalawat menjadikan kita layak nanti memperoleh syafaatnya di hari kiamat," pesannya.

Baca Juga: Jaga Tradisi Literasi di Nganjuk, Festival Literasi Anjuk Ladang 2025 Digelar

“Capaian tertinggi seorang makhluk adalah husnul khatimah,” pungkas Gus Mirza. Maka dirinya berpesan kepada jamaah agar terus berusaha mewujudkannya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X