"Dunia kerja berubah cepat. Gelar sekolah hari kemarin tidak cukup untuk pekerjaan hari esok," tuturnya.
Anies juga membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan, yang pada 1970-an memanfaatkan bonus demografinya dengan investasi besar pada pendidikan menengah dan tinggi.
Terbukti kini, 70% anak muda di Negeri Ginseng itu meraih gelar sarjana, jauh melampaui Indonesia yang masih di bawah 10%.
Baca Juga: Banyak Provinsi yang akan Berakhir Masa Bonus Demografi
"Perbedaan ini bukan hanya soal ijazah, tapi juga soal kesiapan. Negara yang serius membangun manusianya, akan lebih siap menyambut masa depan. Negara yang menunda, akan terus tertinggal," tandasnya.
Anies menyoroti bahwa sistem pendidikan Indonesia belum sepenuhnya siap menyambut bonus demografi. Di era 1970-an, Indonesia berhasil membangun 61.000 sekolah dasar, tetapi "terhenti di tengah jalan" karena kini tidak dilanjutkan dengan pembangunan SMP dan SMA.
Akibatnya, hanya 45% anak Indonesia yang melanjutkan ke SMA, meninggalkan gap besar dalam kesiapan tenaga kerja.
Dengan perubahan dunia kerja yang cepat, Anies memperingatkan bahwa peluang demografi ini bisa menjadi beban jika tidak ada langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menawarkan solusi berupa pendidikan ulang bagi orang dewasa melalui skema re-entry dan retraining untuk mengatasi tantangan bonus demografi ini.
Re-entry fokus pada adaptasi kembali ke lingkungan kerja atau masyarakat, sedangkan retraining bertujuan memberikan keterampilan baru yang relevan.
Anies menekankan bahwa lebih dari 50 juta orang dewasa Indonesia kekurangan kualifikasi kerja. Bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena sistem pendidikan dulu tidak mendukung mereka.
"Kita perlu selesaikan pekerjaan besar yg dulu belum tuntas. Membangun SMP dan SMA, memastikan semua bisa lanjutkan hingga lulus," ucap Anies.
"Tapi itupun belum cukup. Kita juga harus membuka kembali pintu pendidikan bagi mereka yg sudah dewasa, yang dulu terpaksa berhenti di tengah jalan. Mayoritas bekerja di sektor informal. Mereka kuat, gigih, tapi sulit naik kelas," imbuhnya.
Artikel Terkait
Sentil Balik Raja Juli Antoni, Anies Baswedan Sebut Masjid Bukan Sekedar Tempat Ibadah, Sampaikan Pesan untuk Jaga Demokrasi
Gibran Mendadak Trending di X! Apresiasi Wapres untuk Film Jumbo Malah Tuai Cibiran Gegara Kebiasaan Bikin Animasi Pakai AI: Grok Ikutan Kesel
Kerap Menuai Kontroversi, Sound Horeg Bakal Didaftarkan HAKI Sebagai Hasil Kreativitas Anak Bangsa, Tuai Protes Warganet!
Pejabat atau Influencer? Gaya Komunikasi Gibran Rakabuming Raka di YouTube Tuai Kritik Tajam dari Aktivis Ferry Irwandi
14 Quotes Ki Hajar Dewantara untuk Ucapan Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas 2 Mei 2025, Posting untuk Motivasi di Medsos
Siapa Istri Ki Hajar Dewantara? Mengenal RA Sutartinah yang Berjasa dalam Memajukan Pendidikan Wanita Indonesia, Satu Angkatan dengan RA Kartini?