Aksi menggagalkan penipuan berikutnya adalah dengan modus kecelakaan.
“Saat dini hari, ada orang yang hendak transfer sebesar Rp 6 juta. Padahal saya saya sudah tidur. Dari caranya saja sudah mencurigakan. Dia (korban penipuan) terlihat tergesa-gesa. Saat itu korban menerima telepon kalau anaknya mengalami kecelakaan. Oleh pihak penipu, ia diminta mentransfer uang untuk pengurusan agar tidak sampai ke proses di kepolisian,” cerita Gaguk.
Cara menggagalkan aksi penipuan yang kedua ini, Gaguk menolaknya dengan cara halus. Ia beralasan kalau saldo miliknya tidak cukup untuk mentransfer uang sesuai keinginan korban. Gaguk lantas mengarahkan korban untuk mentransfer di BRILink lain.
“Saya sudah tahu kalau jam segitu sudah tidak ada agen BRILink yang buka. Keesokan harinya, saya menerima telepon dari agen BRILink yang saya arahkan tadi. Dia bercerita kalau semalam ada orang yang hendak transfer senilai Rp 6 juta untuk pembayaran pengurusan biaya kecelakaan yang menimpa orang tersebut. Namun oleh teman saya tidak dilayani,” terangnya.
Pengalaman dalam menggagalkan aksi penipuan yang dilakukan Gaguk berikutnya yakni melalui BRI virtual account (BRIVA). Jadi, kata Gaguk, saat nasabah datang ke agen BRILinknya, nasabah tersebut menyerahkan kode tertentu untuk pembayaran belanja secara elektronik.
“Dengan telepon genggam yang menempel di telinga, orang tersebut lantas menyerahkan kode BRIVA. Kemudian saya cek, ternyata nilai yang harus dibayar sebesar Rp 11 juta. Kalau modus penipuan seperti ini, calon korban memang tidak tahu nominal berapa yang harus dibayar ke pihak penipu. Mereka baru tahu setelah dicek di mesin EDC (Electronic Data Capture),” ungkap Gaguk.
Mengatahui hal itu, ia mau melakukan transfer jika menerima uang cash sesuai jumlah yang tertera di BRIVA. Saat itu Gaguk tahu kalau nasabah yang dilayani tidak mungkin membawa uang cash sebanyak itu. Tujuannya, agar orang tersebut mengurungkan niatnya untuk mentransfer.
“Justru nasabah tersebut ngotot untuk ditransfer. Akhirnya telepon saya rebut dan saya ngomong dengan penipu. Pembicaraan pun ditutup oleh pihak penipu. Nasabah saya baru sadar kalau dirinya sedang menjadi korban penipuan,” kata dia.
Aksi menggagalkan penipuan yang terakhir adalah dengan modus pembelian pulsa. Saat itu Gaguk langsung curiga ada anak SMA yang membeli pulsa dengan nominal sampai Rp 300 ribu. Anehnya, kata Gaguk, nomor yang bakal diisi pulsa bukan nomornya, melainkan nomor lain. “Ternyata korban penipuan ini sebelumnya sudah melakukan pengisian pulsa beberapa kali di tempat lain. Anak tersebut menyerahkan bukti transfer yang jumlahnya mencapai Rp 400 ribu,” kata dia.
Normalnya, kata Gaguk, seusia anak SMA mengisi pulsa paling banyak Rp 50 ribu. Oleh Gaguk tidak langsung dilayani. Ia kemudian memanggil orang tua anak tersebut. Kebetulan anak itu adalah tetangganya.
“Saat orang tua anak tersebut datang, mereka bercerita beberapa kali anak itu memang meminta uang dengan jumlah tidak seperti biasanya. Modusnya saat itu penipu mengaku kakak dari korban. Penipu menginformasikan kalau nomor yang lama sudah tidak aktif dan meminta agar mengisikan pulsa ke nomor yang baru. Setelah ditelpon nomor yang lama ternyata masih aktif dan tidak pernah sang kakak meminta kiriman pulsa,” bebernya.
Baca Juga: Baca Peluang Bisnis di Lingkungan Santri, Sepasang Guru di Jombang Rintis Usaha BRILink
Gaguk menjelaskan, aksi penipuan yang terjadi di masyarakat memang sering kali korban diarahkan ke agen BRILink. Sebab, lanjut Gaguk, rata-rata agen BRILink memiliki saldo yang cukup untuk melayani transaksi keuangan bagi nasabah yang menggunakan layanan di agen BRILink.
Artikel Terkait
Kisah Inspiratif Siti Khusnul dari Merauke, Agen BRILink yang Menggerakkan Ekonomi Lokal dan Keluarga
Subur Santoso: Perjalanan Panjang Agen BRILink dari Generasi Awal hingga Tantangan Era Digital
BRI Hadirkan 1,2 Juta AgenBRILink: Layanan Perbankan Kini Hadir di Warung, Desa, dan Pelosok Negeri