Hingga di tahun 1873, Birnie memutuskan memutuskan untuk kembali ke tanah Belanda.
"Mula-mula ia menetap di Velp. Pada tahun 1876 George Birnie pindah ke kediamannya di Deventer bersama sang istri, Rabina,"
Meski ia tak lagi berada di Jember, namun perusahaannya tetap berjalan di bawah kendalinya. Ia juga mempercayakan perusahaan hasil rintisannya kepada Gerhard David Birnie.
"Selama menikmati hidup di tanah leluhurnya, George Birnie lebih banyak menulis dan
tertarik pada urusan kuliner, terlebih tentang nilai gizi gula tebu,"
Selain menuliskannya, Birnie juga memperjuangkan hak atas gula agar dilindungi sebagai bagian dari makanan populer.
Masa senggangnya ia isi dengan mempelajari fisiologi dan teologi secara mendalam. George
Birnie adalah pengagum ajaran Buddha. Ia juga kagum pada gagasan tentang keabadian,
sebuah kepercayaan milik orang-orang Hindu," lanjutnya.
George Birnie wafat pada 20 Mei 1904, di usianya yang baru menginjak 73 tahun. Sosoknya yang mengantarkan Jember kini dikenal sebagai Kota Tembakau.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Apa itu Festival Pegon? Intip Asal Mula Tradisi Unik yang Tetap Dilestarikan di Jember Merayakan Riyoyo Kupat Pasca Lebaran
Misteri Prasasti Kuno di Jember, Jejak Sang Marucana dari Tahun 989 Saka yang Masih Belum Terpecahkan
Melihat Peninggalan Kerajaan Nusantara di Jember, Prasasti Lumbung dengan Pahatan Unik dan Aksara Kuno yang Masih Menyimpan Misteri hingga Kini
Catat! Ini Rekomendasi 3 Apotek 24 Jam di Sekitar Kampus Jember, Butuh Obat Tengah Malam Gak Perlu Khawatir Lagi
Puncak Arus Balik Diprediksi Terjadi Hari Ini, PT KAI Daop 9 Jember: Jumlahnya Mencapai 12 Ribu Penumpang
Usulan Perubahan Perda SOTK, Ketua Bapemperda DPRD Jember Hanan Kukuh: Ada 5 OPD yang Dilebur