Lewat akun X miliknya @Dandhy_Laksono, wartawan yang dikenal dengan jurnalisme investigasinya ini merespon cuitan Guru Gembul tersebut.
“Jangan malu-maluin orang gembul,” tulisnya dalam postingan tanggal 26 Maret 2025.
Pembuat film dokumenter Dirty Vote ini menerangkan, sejak New York Agreement hingga masuknya Freeepot, memang banyak pihak asing yang memiliki kepentingan di Papua.
“Sepanjang sejarah-dari New York Agreement sampai masuknya Freeport-justru asinglah yang paling berkepentingan militere Indonesia ada di Papua,” tulisnya lagi.
Dandhy menambahkan, poin 5 dalam tuntutan aksi tersebut membawa harapan demiliterisasi di Papua dapat berakhir seperti di Aceh.
“Semangatnya demiliterisasi. Gencatan senjata. Dialog seperti di Aceh,” cuitnya lagi.
Ia pun menambahkan, dengan adanya militerisasi di Papua, banyak masyarakat yang jadi korban jiwa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Prabowo Ramai Jadi Gunjingan Usai Pamer Momen Buka Puasa Bareng Keluarga, Dandhy Laksono Bandingkan dengan Nasib Korban Pelanggaran HAM
KSAD Maruli Simanjuntak Sebut 'Dirty Vote' Tak Bernyali, Dandhy Laksono Tantang Menantu Luhut Debat Soal Revisi UU TNI hingga Dwifungsi Militer
Setuju Revisi UU TNI, Aktivis Dandhy Laksono Sindir PKS dan PDIP: Partai yang Besar karena Reformasi 98 Tapi...
Ridwan Kamil Diduga Punya Anak dari Wanita Lain, Lisa Mariana Ngaku Sempat Diancam hingga Diminta Gugurkan Kandungan