Dalam catatan Dinasti Tang, Kerajaan Kalingga juga juga dikenal sebagai Holing, memiliki reputasi yang menarik terkait dengan perempuan-perempuan yang disebut sebagai perempuan 'berbisa'.
Dinasti Tang mencatat tahun 618-907 M, menyebutkan bahwa di Kalingga terdapat banyak perempuan yang memiliki kemampuan berbahaya, yang konon dapat menyebabkan kematian bagi pria yang berhubungan dengan mereka.
Disebutkan bahwa di Kalingga atau Holing banyak perempuan berbisa dimana apabila ada pria yang mengadakan hubungan badan atau berhubungan kelamin dengan perempuan-perempuan itu akan berakibat fatal.
Dalam catatan sejarah, mengenai wanita-wanita penghibur di Kalingga mungkin saja terlibat dalam perdagangan dan interaksi budaya dengan pedagang Tiongkok.
Baca Juga: Mengenal Prasasti Tukmas Peninggalan Ratu Jay Shima, Bukti Luasnya Wilayah Kerajaan Kalingga
Laki-laki yang berhubungan dengan wanita-wanita ini konon akan mengalami luka-luka bernanah dan akan mati namun mayatnya tidak membusuk.
Sebab itulah sebagian sejarawan kemudian mengartikan bahwa catatan itu memuat indikasi adanya praktik prostitusi di wilayah Kerajaan Kalingga.
Bahwa di kerajaan hindu yang dipimpin oleh Ratu Shima itu sudah ada pekerja seks komersil atau PSK yang telah terjangkit penyakit menular seksual.
Dari catatan china itu pula mengindentifikasikan bahwa pada abad Vlll sudah ada penyakit menular yang diakibatkan praktek prostitusi yang berkembang di kerajaan ini.
Penyakit menular ini kemudian dalam istilah jawa baru disebut sebagai penyakit Rojo Singo atau Raja singa.
Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa perempuan-perempuan ini pada awalnya seringkali diasosiasikan dengan praktik-praktik mistis atau sihir, yang membuat mereka terlihat menakutkan bagi para pengunjung atau musuh.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Gunung Sibayak, Sumatera Utara: Jalurnya Menantang Para Pecinta Alam, Tertarik?
Namun pada akhirnya terjawab apa penyebab sesungguhnya perempuan-perempuan itu dianggap berbahaya adalah karena bisa menularkan penyakit berbahaya.