Majapahit mengoperasikan hingga 400 kapal perang, dibagi dalam lima armada, dengan kapasitas hingga 800 prajurit per kapal, dan beberapa kapal berukuran kecil mampu menampung 121 prajurit.
Tom Pires, pelaut Portugis abad ke-15, terkesan dengan ukuran Jung Jawa yang membuat kapal-kapal Portugis tampak kecil.
Dengan empat tiang layar dan konstruksi kayu jati yang solid, kapal ini sangat tahan lama dan mampu menahan serangan meriam.
Teknik pembuatannya yang rumit, tanpa menggunakan kerangka logam, mencerminkan keahlian maritim yang sangat maju.
Namun, kejayaan kapal Jung mulai memudar setelah kekalahan Jawa dari Portugis dan kebijakan represif Kerajaan Mataram pada abad ke-17.
Amangkurat I memerintahkan penutupan pelabuhan dan penghancuran kapal untuk mencegah pemberontakan, sementara VOC melarang pembuatan kapal besar.
Kebijakan ini menandai akhir dari era keemasan perkapalan Nusantara.
Meski hampir terlupakan, kapal Jung Jawa tetap menjadi simbol inovasi dan kekuatan perkapalan Indonesia.
Kapal ini mengingatkan kita akan kehebatan teknologi maritim Nusantara dan warisan budaya yang sangat berharga.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!