Sultan Taha terpaksa melarikan diri, dan Belanda mengangkat Sultan Ahmad Nazaruddin sebagai penguasa boneka.
Meski Jambi masih mengendalikan ibu kota, kejayaan Kesultanan perlahan memudar.
Pada tahun 1904, tragedi besar melanda ketika Sultan Taha dibunuh oleh Belanda.
Dua tahun kemudian, pada tahun 1906, Kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda, mengakhiri salah satu bab paling epik dalam sejarah Nusantara.
Jambi kemudian diubah menjadi keresidenan, menghapus identitas Kesultanan yang dulu pernah berjaya.
Islam dan Transformasi Sosial di Jambi
Selain dikenal sebagai pusat perdagangan, Kesultanan Jambi juga memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di wilayahnya.
Baca Juga: Mengulik Candi Klero yang Konon Merupakan Peninggalan dari Kerajaan Singasari di Semarang
Islam mulai menyebar di Jambi pada masa pemerintahan Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinangmasak.
Transformasi ini semakin kuat ketika Orang Kayo Hitam, yang memerintah dari tahun 1500 hingga 1515, mulai mengintegrasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Orang Kayo Hitam, tokoh visioner ini, tidak hanya membangun pemerintahan Islam, tetapi juga berhasil mengislamkan banyak bangsawan dan rakyat.
Tokoh-tokoh penting seperti Sunan Pulau Johor, Sunan Kembangsri, dan Sunan Muaropijoan adalah beberapa yang memeluk Islam dan membantu menyebarkannya di seluruh Kesultanan Jambi.
Di bawah kepemimpinannya, Jambi mengalami transformasi sosial yang mendalam, menjadikan Islam sebagai bagian integral dari identitas budaya masyarakatnya.