Dalam kondisi tersebut, masyarakat Jawa harus cerdas dan kreatif untuk bertahan.
Baca Juga: 3 Rekomendasi Kuliner Legendaris Malang yang Murah-meriah Cocok Buat Anak Kos, Kuy Jajan!
Mereka mulai memanfaatkan tebu yang melimpah untuk menciptakan berbagai makanan manis.
Dari sinilah lahir berbagai kuliner khas Jawa yang manis, termasuk kue tradisional seperti wajik, yang sudah disebutkan dalam kitab-kitab kuno sejak abad ke-16.
Di sisi lain, ada pendapat yang mengatakan bahwa makanan Jawa selalu manis ini sudah menjadi tradisi sejak zaman Kerajaan Majapahit.
Guru Besar Ilmu Budaya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof Bani Sudardi mengungkapkan, di Pulau Jawa, masyarakat Jawa yang dekat dengan keraton memiliki kecintaan mendalam terhadap kuliner manis.
Kecenderungan ini berasal dari filosofi yang menganggap rasa manis sebagai simbol kenikmatan di lingkungan keraton.
Tradisi ini sudah ada sejak era Majapahit dan dipengaruhi oleh kondisi alam Pulau Jawa yang dulunya dipenuhi pohon kelapa.
Berkat kelimpahan pohon kelapa, masyarakat setempat mengembangkan berbagai inovasi, termasuk pembuatan gula kelapa (gula Jawa), yang menambah rasa manis pada makanan mereka.
Warisan kuliner ini kini menjadi identitas kuliner Jawa, namun ada aspek kesehatan yang perlu diperhatikan.
Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit lainnya.
Jadi, meskipun makanan manis di Jawa memiliki sejarah dan cita rasa yang menarik, penting untuk menikmati semua ini dengan bijak.