Visi Indische Partij meliputi membangkitkan patriotisme, membentuk kerjasama atas dasar persamaan, memajukan tanah air Hindia, dan mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka.
Misi mereka adalah memelihara nasionalisme, memberantas kesombongan ras, dan memperkuat daya tahan batin serta kesusilaan rakyat Hindia.
Indische Partij berusaha mendapatkan pengakuan sebagai badan hukum, namun terus ditolak pemerintah Hindia Belanda.
Hal ini karena pemikiran-pemikiran Indische Partij dinilai dapat mengancam Hindia Belanda.
Douwes Dekker, tokoh nasionalis visioner, mengusung gagasan bahwa bangsa Indonesia terikat bukan oleh etnis, ras, agama, atau geografi, melainkan oleh kesamaan pengalaman dan solidaritas khusus.
Dekker lebih fokus pada propaganda politik daripada ideologi, meski hal ini dikritik oleh Sneevliet yang menilai pendekatannya kurang teoritis.
Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter dan pejuang nasional, sejalan dengan Dekker dalam visi persatuan Indonesia.
Ia percaya bahwa menggabungkan unsur Barat dan Timur akan mendorong kemajuan bagi rakyat dan negara, termasuk kaum bumiputera.
Kini, nama Tjipto diabadikan sebagai nama rumah sakit besar di Jakarta.
Suwardi Suryaningrat, yang lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, adalah pangeran dari Kadipaten Pakualaman Yogyakarta yang tidak tertarik dengan kehidupan istana.
Baca Juga: Cara Licik Belanda Menangkap Pangeran Diponegoro: Sampai Berpura-pura Lakukan Gencatan Senjata
Bagi Suwardi, nasionalisme berarti mengakhiri dominasi kolonial dan menyatukan semua rakyat untuk melawan penjajah.