SketsaNusantara.id - Pangeran Diponegoro memperkenalkan cara bertempur yang baru dan belum pernah dialami oleh Belanda di Jawa sebelumnya.
Salah satu pertempuran terkenal terjadi di Gubed, dimana Pangeran Diponegoro menggunakan taktik Supit Urang atau Tapal Kuda.
Pasukannya dibagi menjadi formasi seperti capit udang, mengepung dan menjebak pasukan Belanda hingga tidak bisa bergerak, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari laman jatiluhur.kec-rowokele.kebumenkab.go.id
Baca Juga: Siapa Cornelis de Houtman yang Dibunuh Laksamana Malahayati? Pelaut Belanda Pemburu Rempah Nusantara
Hingga kini, tempat itu dikenal dengan nama Gubed, mengabadikan strategi pintar sang Pangeran.
Dalam perjuangan ini, Pangeran Diponegoro tidak hanya mengandalkan tentara.
Dia juga melibatkan semua lapisan masyarakat, mulai dari petani, penduduk desa, hingga bandit lokal.
Mereka bersama-sama menghadang pasukan Belanda dengan menebang pohon, membakar jembatan, dan menggali lubang besar di jalan.
Taktik gerilya ini sangat efektif karena memanfaatkan pengetahuan mendalam tentang medan lokal.
Situasi ini membuat Belanda kewalahan. Mereka kemudian menunjuk Letnan Jenderal De Kock, dibantu oleh Mayor Jenderal Van Geen, untuk memimpin operasi militer melawan Pangeran Diponegoro.
De Kock menggunakan strategi pecah belah dan adu domba, bersekutu dengan Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran untuk mengisolasi pasukan Diponegoro.