Selain itu, Belanda mendirikan benteng-benteng di wilayah yang sudah dikuasai, yang dikenal sebagai Benteng Stelsel, untuk memperkuat pertahanan dan mendesak pasukan Diponegoro.
Meskipun terdesak, pasukan Diponegoro tetap melakukan perlawanan kecil-kecilan di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Namun, operasi non-militer oleh Belanda untuk melemahkan semangat rakyat, serta kelelahan yang dialami pasukan Diponegoro, membuat kekuatan mereka semakin berkurang.
Baca Juga: Akhir Kisah Heroik Laksamana Malahayati, Pahlawan Nasional dari Aceh, Benarkah Gugur saat Perang?
Banyak pemimpin perlawanan yang tertangkap atau menyerah, dan akhirnya, Pangeran Diponegoro setuju untuk berunding dengan Letnan Jenderal De Kock di Magelang.
Perjuangan Pangeran Diponegoro ini tidak hanya menguras tenaga dan sumber daya Belanda, tetapi juga menimbulkan biaya perang yang sangat besar, mencapai 20 juta gulden.
Angka ini bahkan turut menyumbang pada krisis ekonomi yang melanda Belanda.
Perlawanan gigih dan taktik cerdas dari Pangeran Diponegoro menjadi salah satu babak penting dalam sejarah perjuangan Indonesia melawan penjajahan.***
Artikel Terkait
Keris Kyai Nogo Siluman Pangeran Diponegoro Kembali ke Indonesia: Sejarah yang Pulang ke Rumah
Kisah Sejarah Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro di Magelang, Dulu Hutan Tempat Semedi Pemimpin Perang Jawa 1825-1830
Pasukan Tulungan Pemburu Pangeran Diponegoro: Tentara Pengkhianat Rakyat yang Berasal dari Pribumi
Cara Licik Belanda Menangkap Pangeran Diponegoro: Sampai Berpura-pura Lakukan Gencatan Senjata
Tetap Tangguh Walau Fisik Sudah Renta, Beginilah Kehebatan Nyi Ageng Serang dalam Perang Jawa Bersama dengan Pangeran Diponegoro