Bahkan ketika pasukan Moch. Sroeji dipindahtugaskan, Bura diminta untuk tetap tinggal di Jatian, Pakusari untuk menjaga pedalaman desa.
Ilmu kanuragan yang dimiliki Bura juga membuat Belanda kesulitan untuk menangkapnya.
Baca Juga: Siapa Bataha Santiago? Pahlawan Nasional Pulau Sangihe yang Mengusung Gagasan Banala Pesasumbalaeng
Hingga pada agresi militer yang kedua, tentara Belanda berhasil kembali masuk ke Jember pada tahun 1947 dan langsung mencari Bula.
Belanda bahkan menggunakan cara licik untuk menangkap Bura.
Selain menempatkan mata-mata, Belanda juga menculik ibu Bura agar pendekar ahli kanuragan tersebut muncul.
Bura pun dipaksa mengungkapkan kelemahannya hingga akhirnya ia tewas dibakar Belanda.
Lantas kenapa nama Bura tidak begitu dikenal bahkan tak mendapatkan gelar pahlawan?
Sebelum dibakar, rupanya Bura sempat berwasiat agar keturunannya tidak menuntut penghargaan kepada pemerintah.
Namun untuk tak melupakan jasa-jasanya, penduduk setempat mendirikan monumen di lokasi pembakaran Bura.
Monumen yang berada 13 kilometer dari pusat kota Jember ini dikenal sebagai Monumen Bura.***