Hal tersebut membuat nasi liwet dibawa sebagai bekal dan disimpan dalam ketel atau kastrol yang tertutup rapat agar nasi tetap hangat.
Baca Juga: Apa Hubungan Sunan Bayat dan Syekh Siti Jenar? Kisahnya yang Mengguncang Himpunan Wali Songo
Perlu diketahui, nasi liwet ini tercatat dalam Serat Centhini yang menjelaskan tentang bagaimana proses pembuatan makanan tradisional Jawa tersebut.
Penulisan resep nasi liwet pada karya sastra Jawa itu disampaikan dalam bentuk tembang atau suluk.
Selain itu, untuk nasi liwet yang berasal dari Solo dituliskan pada Serat Centhini sudah ada sejak tahun 1819 Masehi.
Baca Juga: 250 Anak Tangga Makam Sunan Bayat: Petualangan Mistis di Makam Sunan Bayat yang Wajib Anda Kunjungi!
Menurut kepercayaan orang Jawa, nasi liwet digunakan sebagai media penolak bala, sehingga akan selalu dikaitkan dengan peristiwa seperti bencana alam.
Bahkan saat proses pembuatannya juga selalu diselingi doa-doa demi meminta keselamatan kepada Tuhan agar dilindungi dari segala macam marabahaya.
Nasi liwet juga biasanya akan disajikan pada peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diibaratkan seperti memakan nasi samin yang disukai oleh nabi dan sebagai gantinya adalah memakan nasi liwet.
Selanjutnya, nasi dengan rasa gurih ini juga disajikan ketika malam "Midodareni" yang merupakan bentuk syukuran sebelum berlangsungnya upacara pernikahan.***