Penggabungan 2 sistem kalender ini membuat Kalender Jawa sebagai salah satu kalender paling rumit di dunia.
Sistem Kalender Jawa menggunakan 2 siklus hari yakni siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari dan siklus pancawara yang terdiri dari 5 hari.
Siklus tujuh hari (saptawara) ini sewaktu dengan siklus mingguan dalam Kalende Masehi.
Sementara siklus pancarawa terdiri dari Kliwon, Legi, Pahing, Pon dan Wage.
Tak hanya siklus harian, Kalender Jawa juga memiliki siklus bulanan yang terdiri dari 12 bulan.
Nama-namanya diserap dari bahasa Arab namun disesuaikan dengan cara berbicara masyarakat Jawa.
Sementara itu siklus tahunan dalam Kalender Jawa dikenal juga dengan Windu atau siklus delapan tahun.
Kalender Jawa sendiri mulai diterapkan pada 1 Sura tahun 1555 Saka yang bersamaan dengan 1 Muharram 1043 Hijriah atau 8 Juli 1633 Masehi.
Menariknya, Sultan Agung tidak memulai penanggalan Jawa dari Tahun Islam, melainkan meneruskan penghitungan dari Tahun Saka.
Hasilnya, tahun baru dalam kalener Jawa selalu bertepatan dengan tahun baru Islam.
Sehingga ketika umat Islam merayakan tahun baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriah yang jatuh pada 7 Juli 2024, bertepatan dengan 1 Suro 1958 Tanggalan Jawa.***