Untuk mencapai Pulau Satonda, wisatawan bisa menyeberang dari Labuan Kenanga, yang memakan waktu sekitar 15 menit.
Rute ini lebih disarankan dibandingkan pelabuhan Calabahi-Satonda yang juga memakan waktu yang sama.
Dari Kota Dompu, kedua pelabuhan tersebut berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan.
Pulau Satonda dan perairannya memiliki nilai ilmiah yang tinggi serta ekosistem gunung api yang unik dan eksotik.
Pulau ini ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL) berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 22/Kpts-VI/1998 dengan luas 2.600 hektar, terdiri dari 453,70 hektar daratan dan 2.146,3 hektar perairan.
Baca Juga: 7 Fakta Keindahan Tersembunyi Curug Walet Pamijahan, Permata Alam Bogor yang Memanjakan Mata
Pulau Satonda, yang terletak 3 km dari semenanjung Sanggar atau 30 km dari Gunung Tambora di Laut Flores, adalah pulau vulkanik yang muncul dari kedalaman 1.000 meter.
Letusan gunung purba ini menciptakan pulau seluas 6 kilometer persegi dengan danau seluas 4 kilometer persegi, dikelilingi tebing dan bukit setinggi 300 meter.
Awalnya, Danau Satonda berisi air tawar. Namun, tsunami yang diakibatkan oleh letusan Gunung Tambora pada 15 April 1815 mengisi danau dengan air laut, mengubahnya menjadi danau air asin.
Baca Juga: 7 Fakta Keindahan Tersembunyi Curug Walet Pamijahan, Permata Alam Bogor yang Memanjakan Mata
Penelitian juga menemukan adanya stromatolit, makhluk purba penghasil oksigen, yang membuat danau ini semakin unik.
Stromatolit di Danau Satonda adalah salah satu dari lima titik stromatolit di dunia, dengan yang lainnya berada di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia Barat.
Topografi Pulau Satonda di luar wilayah danau berbukit-bukit dengan ketinggian 300-350 mdpl, sementara bagian tengahnya adalah dataran rendah dengan danau kawah vulkanik.