SketsaNusantara.id - Gus Dur pernah mengungkapkan garis keturunannya yang tersambung ke 2 sosok besar dalam sejarah Islam di Nusantara.
Dua sosk besar itu adalah Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. Bagi Gus Dur, keduanya membawa ajaran yang sejatinya tidak bertentangan, meski sering dipandang berbeda.
Sunan Kalijaga dikenal sebagai penyebar Islam yang dekat dengan budaya Jawa. Sedangkan Syekh Siti Jenar dianggap membawa ajaran yang lebih mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, yang sering disebut sebagai "Manunggaling Kawulo lan Gusti."
Baca Juga: Karena Jasa Besarnya pada Imlek dan Etnis Tionghoa, Gus Dur Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Pemahaman tersebut menurut Gus Dur, sebenarnya sejalan dengan tasawuf yang diajarkan oleh Imam Ibnu Arabi. Gus Dur menjelaskan bahwa Syekh Siti Jenar bukanlah penyimpang, melainkan sosok yang menggabungkan unsur Islam dan kearifan lokal.
"Imam Ibnu Arabi itu membuat Tariqat, namanya apa. Namanya itu Manunggaling Kawulo lan Gusti. Lhaa itu kan sama tariqatnya kok. Sama Islamnya. Cuma yang di sini santri, yang di sana tidak. Cuma itu," kata Gus Dur, dikutip SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Bangkit TV yang diunggah 20 Juni 2020.
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam tidak perlu berseteru hanya karena perbedaan cara beribadah dan pendekatan keagamaan.
Sebagai keturunan Sunan Kalijaga melalui jalur anak dari Syekh Siti Jenar, Gus Dur merasa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak berpihak hanya pada satu golongan.
"Saya ini ya keturunan Sunan Kalijaga dari istri anaknya Siti Jenar. Ya, istri anaknya Siti Jenar. Tapi akhirnya malah cerai. Soalnya apa? Karena saya ini tidak tega dengan kedua-duanya. Kepada orang Kejawen ya tidak tega, kepada orang santri ya tidak tega. Menurut saya, ya tidak usah bermusuhanlah. Kan sama-sama Islamnya," lanjutnya.
Baca Juga: Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi
Ia memilih untuk bersikap netral dan mengajak semua pihak untuk saling memahami. Bagi Gus Dur, baik Islam Santri maupun Islam Kejawen adalah bagian dari keberagaman yang harus dihormati.
Keberagaman ini tampak dalam perjalanan spiritual Gus Dur. Ia pernah mengunjungi makam Pangeran Herucokro, guru Syekh Siti Jenar, yang terletak di Hutan Ketonggo, Ngawi. Perjalanan ini bukan sekadar ziarah, tetapi juga simbol penghormatan kepada sejarah yang membentuk ajaran Islam di tanah Jawa.
Menurut Gus Dur, inti dari semua ajaran Islam adalah menyembah Allah sesuai dengan syariat.
Artikel Terkait
6 Artikel Gus Dur yang Dibaca Silfester saat SD? Jaringan Gusdurian Ngajak Tebak-tebakan Netizen: Coba Tebak!
Celana Pendek Gus Dur saat Dilengserkan, Inilah 3 Fakta Kesederhanaan sang Kyai yang Lahir 7 September
Gus Dur, Pencabutan TAP MPR, dan Gelar Pahlawan Nasional
Demokrasi Indonesia di Ujung Tanduk, Sosok Gus Dur Wajib Terus Dikenang dan Jadi Pengingat
9 Nasihat Gus Dur untuk Hari Santri Nasional 2024: Islam Datang Bukan untuk Mengubah Budaya Leluhur Jadi Budaya Arab