Cara ini dilakukan oleh Haji Bilal untuk memperlihatkan koleksi batiknya sebagai upaya untuk menjalin hubungan erat di dalam lingkup masyarakat.
Semasa kecil Haji Bilal dikenal ulet dan mandiri juga sangat suka melihat berbagai kegiatan yang terjadi di pasar.
Hal tersebut membuat Haji Bilal mengikuti jejak para pedagang untuk memulai bisnisnya.
Pada tahun 1912 Haji Bilal membuat perusahaan resmi yang dinamakan CV Haji Bilal dengan 700 pegawai, dan pada tahun itu juga dikenal sebagai tahun spesial oleh masyarakat daerah Kauman Yogyakarta dan sekaligus pelopor berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah.
Kemudian bangsa Eropa dan juga Timur Tengah memasukkan nama Atmojoewana kedalam daftar orang berpengaruh di Yogyakarta pada pertengahan tahun 1912.
Hingga kemudian pengaruh Atmojoewana melambung tinggi hingga berperan sebagai pengikat kesepakatan dengan pedagang di jaringan The Big Five atau yang dikenal sebagai gurita bisnis yang terdiri atas lima perusahaan Belanda. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Kronologi Mahasiswa Ditemukan Meninggal Dunia dalam Kamar Kos di Sleman Yogyakarta, Barang Bukti Ini Diduga Jadi Penyebab Kematian Korban
Bekas Restoran di Yogyakarta Ini Disebut Restoran Siluman Ular, Unik Namun Suasananya Menyeramkan
Mistis Tapi Nyata! Inilah Misteri Bengkel Gaib di Depan Rest Area Wonosari Yogyakarta, Kisahnya Populer Hingga Jadi Urban Legend Warga Setempat
Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta: Kini Tampil Modern dan Trendi, Siapa Pun Bisa Belajar Tanpa Takut Bosan, Kunjungi Yuk!
Tradisi Pengantin Tebu Berasal dari Kisah Tragis di Pabrik Gula Madukismo Yogyakarta? Ternyata Tujuannya untuk...