Meskipun dikerjakan secara paksa, baboe tetap memiliki sikap sabar dan penyayang kepada anak majikannya.
Hingga memiliki sebutan sebagai ibu peri bagi anak-anak Belanda. Bahkan ketika anak-anak asuhannya terkena marah, baboe jadi tempat berlindung.
Kendala terbesar para pengasuh pribumi adalah bahasa, para baboe hanya menggunakan bahasa daerah sehari-hari ketika berbicara dengan anak yang diasuhnya.
Setelah ditetapkan undang-undang penghapusan perbudakan, baboe atau para pelayan rumah tangga bebas dari perbudakan dan hidup tanpa adanya paksaan.
Namun beberapa perempuan pribumi tetap diminta untuk tetap bekerja sebagai baboe untuk mengurus anak-anak Belanda, bedanya mereka yang bekerja diberi upah meski jauh dari kata cukup.
Istilah baboe yang berisikan wanita-wanita pribumi digambarkan sebagai wanita yang tangguh di era kolonial Belanda.
Menurut beberapa jurnal, kemunculan profesi baboe di Batavia dimulai pada tahun 1900 hingga 1942.
Demikianlah informasi terlait baboe atau pengasuh anak-anak belanda di era Belanda, semoga bermanfaat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI
Artikel Terkait
Siapa Putra Bangsa dari Tanah Papua? Kenal Lebih Jauh tentang Silas Papare, Tak Kenal Menyerah dari Tahanan Belanda
Ingin Kulineran Es Krim dengan Nuansa Berbeda? Ini 3 Rekomendasi Restoran Sejak Zaman Penjajahan Belanda, Ternyata Masih Hits hingga Kini
Sejarah Pembentukan dan Pemikiran-pemikiran Indische Partij yang Dinilai Mengancam Pemerintah Hindia Belanda
Dikenal Sebagai Destinasi Wisata, Pulau Tidung Ternyata Punya Sejarah Tentang Perlawanan Penjajahan Belanda
Naik Tahta Sejak Usia 3 Tahun, Mengenal Sosok Raja Yogyakarta yang Masa Kepemimpinannya Penuh Drama hingga Dianggap Tunduk pada Belanda