Kamis, 4 Juni 2026

Mengenal Sistem Penanggalan Pranoto Mongso, Sistem Penanggalan Jawa Sebagai Penentu Musim Bagi Petani dan Nelayan

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Selasa, 6 Agustus 2024 | 21:41 WIB

SketsaNusantara.id - Dalam budaya Jawa ada satu kalender bernama Pranata Mangsa atau Pranoto Mongso yang digunakan sebagai penanggalan untuk bertani dan nelayan.

Pranoto Mongso ini rupanya dipakai masyarakat jawa kuno sebagai penanggalan Jawa kuno dalam bertani dan nelayan.

Seperti dikutip SketsaNusantara.id dari laman putatgede.kendalkab.go.id, bahwa Pranoto Mongso atau Pranata Mangsa adalah semacam penanggalan yang berkaitan dengan musim menurut pemahaman suku Jawa.

Baca Juga: Asal-usul Malam Tirakatan 17 Agustus, Tradisi Masyarakat Jawa Sambut Kemerdekaan Sudah Ada Sejak Sultan Hamengkubuwono IX?

Ia juga disebut sebagai kitab Jawa kuno yang digunakan dalam ramalan dan penentuan saat-saat penting dalam budaya Jawa. 

Kitab Pranoto Mongso terus turun temurun dalam budaya Jawa dan digunakan untuk menentukan musim serta dalam ramalan dan mengungkap kepribadian seseorang berdasarkan tanggal lahirnya.

Sehingga kitab ini dianggap memiliki nilai spiritual dan kepercayaan yang kuat di masyarakat Jawa.

Baca Juga: Mengapa Jamu Identik dengan Perempuan? Menelisik Sejarah Minuman Herbal Tersohor Khas Jawa dengan Khasiatnya yang Luar Biasa

Pranoto Mongso sendiri juga disebut sebagai Pranata mangsa yang berasal dari dua suku kata yakni pranata dan mangsa yang artinya penentuan musim atau semacam penanggalan yang berkaitan dengan musim.

Hal ini berasal dari kalangan petani dan nelayan yang menurut pemaham dari suku Jawa, Sunda dan juga Bali yang disebut sebagai Kerta Masa.

Berdasarkan arti tersebut maka Pranoto Mongso memiliki peranan penting bagi petani dan nelayan karena berfungsi penting sebagai penentu dalam sebuah pekerjaan.

Pada awalnya masyarakat Jawa menggunakan pergerakan matahari untuk sistem penanggalan saka Hindu.

Baca Juga: Icip-Icip Menu Sarapan Pangeran Diponegoro bak Nostalgia Tahun 1830, Makanan Khas Jawa Tengah Ini Mirip Krim Sup dan Harganya...

Namun hal itu kemudian diubah oleh Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo, Raja Mataram pada tahun 1663 yang mengubah penanggalan matahari menjadi sistem bulan seperti kalneder hijiriah islam.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Putatgede.kendalkab.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X