Lalu pada tahun 1855 M, Sri Paduka Mangkunegara IV melakukan pembaharuan karena penanggalan bulan-bulan musim dan bulan-bulan matahari dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani untuk bertanam.
Dalam Pranoto Mongso, setahun dibagi menjadi empat musim utama dan dua musim yakni :
• Kecil : terang (langit cerah, 82 hari)
• Semplah (penderitaan, 99 hari) mangsa kecil paceklik pada 23 hari pertama,
• Udan (musim hujan, 86 hari), dan
• Pangarep-arep (penuh harap, 98/99 hari) dengan mangsa kecil panen.
Demikian informasi mengenai tahapan musim dalam kitab Pranoto Mongso. Semoga bermanfaat.***
Artikel Terkait
Profil KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin, Ketua Tanfidz PWNU Jawa Timur Periode 2024-2029, Ternyata Cicit Ulama Besar Indonesia
Apa Penyebab Dodol Garut Disebut Jajanan Manis Terbaik? Mengenal Perkembangan Kudapan Khas Jawa Barat yang Melegenda
Makanan Jawa Selalu Manis, Benarkah Begitu? Ternyata Ada Alasan dan Sejarah Panjang Dibaliknya!
Asal Usul Nama Prawiro, Dulu Jadi Gelar, Kini Banyak Dipakai di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Trah Terbanyak di Jawa?
Tumenggung Sumodiningrat, Singo Barong Yogyakarta, Ulama Tanah Jawa yang Mulai Terlupa, Mati Mengenaskan di Tangan Lawan