Ia menyebutkan bahwa seorang Belanda bernama Pieter Janse van Horn dimakamkan bersama dengan anggota keluarganya yakni istri, kedua anak dan menantunya Kapten Tack.
Dimana pada kompleks makam keluarga itu terdapat batu nisan yang bernuansa ukiran angka lambang heraldik dengan bahasa Belanda dengan kalimat yang sudah tak utuh.
Lambang heraldik keluarga Pieter Janse dimana disana juga konon terdapat makam Kapten Tack tampak lambang heraldik keluarga Pieter Janse van Hoorn yang terukir megah di nisannya.
Rupanya berbagai ikon dan lambang heraldik itu melambangkan nama keluarga, profesi, atau asal usul pemilik lambang yang ditengarai hal itu mengungkapkan wibawa pejabat VOC.
Museum Taman Prasasti Jakarta Pusat yang konon disana ada museum terbuka yang merupakan bekas sehamparan tanah pemakaman Kristen yang mulai digunakan sejak tahun 1795 hingga 1976.
Baca Juga: Tradisi Mudik Sudah Ada Sejak Masa Belanda? Perusahaan Kereta Jadikan Tradisi Ini Sebagai Propaganda
Dahulunya tempat itu dikenal sebagai Kebonjahe Kober dimana dalam sebuah batu nisan tertulis cerita riwayat hidup Kapten Tack yang berasal dari Den Haag Belanda, lahir pada 28 Mei 1649 dan wafat di Kartasura pada 8 Februari 1686.
Nisan itu juga mengungkapkan bahwa Kapten Tack dikembumikam di Batavia pada hari itu. Meski jika ditelisik lebih jauh, Batavia meragukan sebagai makam Kapten Tack mengingat Kartasura letaknya jauh dengan Batavia.
Sehingga ada dugaan kemudian bahwa Kapten Tack diputuskan dimakamkan di Loji benteng kompeni di Jepara, namun pada akhirnya Gubernur yang berkuasa saat itu yakni Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (ipar Kapten Tack) memutuskan memindahkan jenazah Kapten Tack dari Jepara ke Batavia.
Hal itu disimpulkan karena ada bukti kuat dimana nama Kapten Tack terukir disebuah nisan mertuanya, keluarga Pieter Janse van Hoorn di Batavia dalam kruiskerk atau Gereja salib.
Dari penjelasan pengajar bahasa dan budaya Belanda Universitas Indonesia tersebut, terdapat satu kesimpulan penting bahwa Kapten Tack awalnya dimakamnkan di Benteng Jepara namun kemudian dipindahkan ke Batavia.
Baca Juga: Cara Licik Belanda Menangkap Pangeran Diponegoro: Sampai Berpura-pura Lakukan Gencatan Senjata
Pemindahan makam Kapten Tack oleh Joan van Hoorn yang ternyata adalah iparnya tersebut karena Joan van Hoorn yang kemudian menjabat sebagai gubernur jenderal itu ingin menunjukkan kepada masyarakat tentang kepahlawanan Kapten Tack kala itu.
Tindakan itu juga ditengarai sebagai politik pencitraan yang akan menaikkan pamor sang gubernur jenderal Joan van Hoorn.***
Artikel Terkait
Mengenal Korfball, Olahraga Favorit Pahlawan Jember, Letkol M Sroedji, yang Jadi Cabor di PON 2024, Buatan Belanda?
Makam Belanda Cantik Sejak Tahun 1800an di Surabaya, Bak Pemakaman Eropa dengan Nisan yang Unik
Sukarni Pahlawan Terlupakan Kelahiran Blitar yang Dipenjara Pemerintahan Bung Karno, Waktu Kecil Sering Gelut dengan Anak-Anak Belanda
Bukti Telah Menang dari Sejarah, 10 Kekuatan Pasukan Elit Indonesia Ini Mengalahkan Tentara Belanda, Kok Bisa?
Kisah Persahabatan M Sroedji dan dr. Soebandi dalam Patung di Jalan Hayam Wuruk, 2 Pahlawan Jember yang Dibantai Belanda
Di Mana Makam Kyai Modjo? Seorang Panglima Perang Diponegoro yang Menentang Kekuasaan Belanda, Cek Lokasinya...
Siapa Panglima Muda Sentot Prawirodirjo? Jadi 'Mimpi Buruk' Bagi Musuh, Belanda Sampai Menuliskan Kehebatannya?
Kisah Karomah Kyai Sholeh Darat, Guru KH Hasyim Asy'ari, Pernah Bikin Mobil Tentara Belanda Mogok Gara-Gara...