Sebagaimana umumnya klenteng di Indonesia, bangunan Klenteng Kwan Sing Bio didominasi dengan warna merah, hijau, dan kuning lengkap dengan berbagai hiasan seperti lampion, lilin hingga patung-patung dewa-dewi dan naga.
Klenteng Kwan Sing Bio Tuban memiliki fungsi utama yakni sebagai tempat atau rumah ibadah bagi penganut agama Buddha, Tao, dan Konghucu atau yang disebut dengan ajaran Tri Dharma.
Berdasarkan hal tersebut, Klenteng Kwan Sing Bio memiliki 3 ruangan atau bagian yang memiliki fungsi masing-masing.
Ruangan pertama adalah tempat pembakaran hio, selanjutnya ruangan kedua sebagai tempat sembahyang dan persembahan.
Terakhir ruangan ketiga yang terletak paling belakang yakni tempat patung Dewa Kwan Kong dan patung dewa lain yang keramat.
Baca Juga: Makam Astana Srandil, Situs Wisata Religi Makam Islam Nusantara di Ponorogo Provinsi Jawa Timur
Dahulunya, Klenteng Kwan Sing Bio terdapat sebuah patung dewa bernama Dewa Kwan Sing Tee Koen yang berdiri setinggi 30 Meter.
Patung tersebut dinobatkan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) nomor rekor 7996 sebagai patung panglima perang tertinggi di Asia Tenggara.
Namun, patung megah Dewa Kwan Sing Ree Koen dinyatakan telah rubuh tak tersisa karena sebuah peristiwa alam yang terjadi pada 16 April 2020 lalu.***
Artikel Terkait
Klenteng di Muntilan ini Miliki Altar Presiden ke-4 Republik Indonesia, Diperlakukan Sama dengan Dewa-Dewi
Mengulik Kisah Makam Ki Juru Mudi, Sosok Muslim yang Dimakamkan di Klenteng Sam Poo Kong Semarang
Berusia Lebih dari 2,5 Abad! Tiap Tahun di Klenteng Solo Ini Terjadi Perayaan Kebudayaan Persilangan Tionghoa dan Jawa
Siapa Ki Juru Mudi? Menelisik Kisah Sosok Muslim yang Dimakamkan dalam Klenteng Sam Poo Kong Semarang