SketsaNusantara.id – Gelondongan kain di ruang berukuran 8 – 9,5 meter itu tampak hampir memadati toko. Ditambah aktivitas pelayanan pembeli, suasana toko milik Khoirul Miftah (62) jauh dari kata sepi.
Tidak hanya menyediakan kain yang ia jual dengan sistem kiloan, Pak Mif, sapaan akrabnya juga menyediakan berbagai seragam sekolah. Namun, seragam yang laku keras adalah seragam ekstrakurikuler sekolah, yakni seragam karate.
“Seragam itu menjadi cikal bakal adanya toko yang saya tempati sejak tahun 2016,” kata Pak Mif mengawali cerita di sela ia sedang melayani pembeli.
Dulu, katanya, ia berdagang di tempat yang disewa di sekitar pasar tradisional yang berada di pusat Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dari tempat satu ke tempat lain, Pak Mif bersama istri terus berkreasi agar berbagai model pakaian yang dijual diterima pembeli.
“Selain menunggu pembeli di toko, saya juga menawarkan ke toko yang lain. Biasanya, toko yang saya tawari menerima. Namun tidak sedikit yang menolak dengan alasan sudah punya model pakaian seperti baju-baju yang saya bawa,” pertengan pekan lalu.
Selain ke sejumlah toko pakaian, Pak Mif juga menjajakan ke lingkungan pondok pesantren. Di sekolah-sekolah yang ada di pondok pesantren menjadi tujuan yang diandalkan untuk menjual barang dagangannya. Selain santri yang banyak, ia bekerjasama dengan pihak kanntor sekolah.
“Kalau berjualan di pondok lebih enak. Karena sudah ada kerjasama dengan pihak kantor. Jadi permintaan tergantung mereka,” tambahnya.
Pak Mif mulai merasa lelah karena harus berkeliling dengan alat transportasi sepeda motor. Ditambah harus pulang pergi dari rumah ke toko tenaga Pak Mif tak sekuat saat memulai usaha berdagang pakaian. “Jarak dari toko ke rumah memang tidak jauh, sekitar kurang lebih 3 kilo meter,” ucap Pak Mif.
Ia kemudian memutuskan untuk mencari tempat sewa baru yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Gadingmangu. Selain mendekati asal rumah induk keluarga besar Pak Mif, ia memiliki terobosan baru dalam berdagang.
“Kalau dilingkungan pondok bisa jual sesuai kebutuhan umumnya di pondok. Seperti mukenah, jilbab kemudian seragam ekstrakurikuler. Kegiatan ekstra di pondok sini bermacam-macam,” katanya.
Dari penjualan tersebut, Pak Mif lantas membuka usaha baru yang masih berkutat pada garmen. Ia membeli gelondongan kain ke Bandung. “Tahun 1997 saya mulai kulakan kain ke Bandung dengan transportasi kereta api. Di sana murah,” tandas dia.
Kain yang didatangkan dari Bandung tersebut dijahit dengan merekrut 6 karyawan. Hasilnya, selain dijual oleh karyawan konveksinya, ia juga mencoba menawarkan seragam karate ke Tulungagung.
Hingga kini, Pak Mif tetap melayani pelanggan dari sejumlah luarr kota, bahkan luar pulau. Strategi yang digunakan adalah mengenalkan barang dagangan kepada wali santrri di saat ajaran baru di pondok pesantren.
“Biasanya para wali santri saat mengantar di pondok beberapa hari bermukim di tempat-tempat kos yang menyebar tak jauh dari kompleks poondok,” kata dia.
Artikel Terkait
Raffi Ahmad Heran Namanya Dikaitkan dengan Kasus Korupsi Bea Cukai, Beberkan Fakta di Balik Video Viral Toko Elektronik
Masuk ke SMPN 4 Jombang, BRI Tanamkan Gemar Menabung dan Digitalisasi Transaksi di Lingkungan Sekolah
Perkuat Ketahanan Ekonomi Daerah, BRI Peduli Menggelar Pelatihan Kewirausahaan Bagi 60 Purna Pekerja Migran di Cirebon