Minggu, 19 Juli 2026

Mengenal KH Bisri Syansuri, Tokoh Ulama Nusantara Pendiri NU dan Penggagas Pesantren Perempuan Pertama di Indonesia

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Selasa, 23 Juli 2024 | 07:30 WIB
Potret KH Bisri Syansuri, ulama pendiri NU, penggagas pesantren putri pertama di Indonesia. (Laman nu.or.id.)
Potret KH Bisri Syansuri, ulama pendiri NU, penggagas pesantren putri pertama di Indonesia. (Laman nu.or.id.)

Sosoknya terkenal cerdas dan mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan umat melalui pendekatan ilmu fiqih.

Setelah 6 tahun mengenyam pendidikan agama di pesantren tersebut, Kiai Bisri kemudian mengikuti jejak guru-gurunya untuk melanjutkan studi dan menuntut ilmu agama ke Mekah, Arab Saudi pada tahun 1912.

Baca Juga: Siapa Arya Wiraraja? 5 Fakta Penguasa Lumajang, Pernah Jadi Adipati Sumenep yang Dulu Mengabdi ke Kakek Raden Wijaya

Sepulangnya dari Tanah Suci, Kiai Bisri kemudian mendirikan Pesantren Mamba'ul Ma'arif di Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada tahun 1917.

Beliau kemudian membuka kelas khusus untuk santri perempuan pertama kalinya di Indonesia pada tahun 1919.

Meski sempat menimbulkan polemik kala itu, Kiai Bisri tetap melanjutkan kelasnya yang pelaksanaannya tak lepas dari pengawasan KH Hasyim Asy'ari.

Baca Juga: Terinspirasi dari Stadion San Siro! Dibangun Tahun 2005, Stadion di Jawa Ini Punya Standar Kelas Eropa

Pembukaan kelas khusus santri perempuan ini berdasarkan pemahaman ilmu fiqih yang dipelajari Kiai Bisri selama ini tanpa mengorbankan rasa hormatnya terhadap gurunya.

Upaya Kiai Bisri mendirikan kelas pesantren khusus itu pun menjadi terobosan penting bagi kemajuan pendidikan agama untuk kaum perempuan yang akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya pesantren khusus putri di Jombang.

Pada tahun 1926, Kiai Bisri Syansuri ikut berperan dalam pendirian Nahdlatul Ulama (NU) bersama dengan KH Hayim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah, sahabatnya.

Tak hanya itu, Kiai Bisri turut serta dalam perjuangan melawan para penjajah Jepang dengan menjadi Kepala Staf Markas Oelama Djawa Timur (MODT) pada tahun 1947.

Baca Juga: Tetangga Adalah Maut! Pasutri di Lampung Ini Tewas Setelah Dianiaya Tetangganya Sendiri, Ada Apa?

Ia termotivasi dari fatwa KH Hasyim Asy'ari untuk melakukan jihad dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

KH Bisri Syansuri sebagai ahli fiqih juga  berkecimpung dalam dunia politik dan terlibat dalam beberapa lembaga pemerintahan seperti KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan menjadi Dewan Konstituante tahun 1956 pada masa pemerintahan Ir. Soekarno.

Pada masa itu, Kiai Bisri menentang berbagai kebijakan, seperti pembubaran DPR hasil pemilu 1955 hingga RUU pernikahan yang dinilai jauh dari ajaran agama Islam.

Halaman:

Editor: Wilda Wijayanti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X