Minggu, 19 Juli 2026

Di Mana Lokasi Makam Mbah Shiddiq? Salah Satu Objek Wisata Religi Jember yang Dipadati Peziarah

Photo Author
Alvin Septia Wijaya, Sketsa Nusantara
- Senin, 22 Juli 2024 | 12:40 WIB
Makam KH. Muhammad Shiddiq, Jember (Instagram @hima.matlab.rayonjember)
Makam KH. Muhammad Shiddiq, Jember (Instagram @hima.matlab.rayonjember)

Sejarah singkat tentang Mbah Shiddiq atau KH. Muhammad Shiddiq, beliau lahir pada tahun 1854 M di Desa Waru gunung, Kecamatan Lasem Kabupaten Rambang.

Merujuk pada Buku Nahkoda Nahdliyyin: Biografi Rais Aam Syuriyah & Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Sejak 1926 Hingga Sekarang karya M. Sholahudin, KH. Muhammad Shiddiq merupakan putra dari KH. Abdullah bin KH. Sholeh (Raden Tirto Widjojo).

Nasabnya diketahui terhubung hingga ke Rasulullah SAW, bahkan dikatakan masih cucunya.

Baca Juga: Siapa Mbah Shiddiq Jember? Ulama Penyebar Agama Islam se Antero Jember, Punya Nama Asli...

Perjalanan KH. Muhammad Shiddiq dalam menyebarkan agama Islam di Jember terbilang panjang.

Kiai Siddiq diperintah gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) untuk berdakwah di Jember yang masih sedikit penduduk namun telah ada agama Hindu dan Budha.

KH. Muhammad Shiddiq melakukan dakwah untuk menyiarkan agama Islam sembari pedagang, Ia dikenal sebagai pedagang kain, sarung, alat-alat pertanian, kitab, dan lair-lain.

Baca Juga: Pesanggrahan Jenderal Ini Ada di Desa Rute Perang Gerilya, Nganjuk, Jadi Tempat Susun Strategi Lawan Belanda

Mbah Shiddiq disela-sela profesi mengajarkan kepada anak-anak di pasar tentang agama Islam, hingga ia memiliki banyak murid atau santri.

Dikarenakan jumlah muridnya yang terus bertambah, KH. Muhammad Shiddiq akhirnya mendirikan sebuah mushola di sebelah rumahnya yang waktu itu masih tinggal di Kampung Gebang.

Musholla tersebut digunakannya untuk mengajarkan membaca surat Al-Qur'an, ibadah dan ajaran Islam lain seperti aqidah dan akhlak.

Baca Juga: Makam Syekh Ronggo Kusumo di Mana? Di Balik Kisah Penugasan Adipati Tuban hingga Jadi Nama Desa Ngemplak Kidul di Pati

Kemudian, Kiai Shiddiq berikhtiar mencari tanah yang lebih luas untuk mewujudkan cita-citanya membangun pesantren dengan pondok-pondok santri yang mengelilinginya.

Dari hasil istikharah, Kiai Shiddiq temukan tanah idamannya itu di daerah Talangsari dan pada tahun 1915, Kiai Siddiq pindah ke daerah Talangsari tersebut bersama dengan semua santrinya yang di Gebang.

Rumah di Gebang ditempati oleh KH Mahmud yakni putranya yang sekaligus Kiai Mahmud melanjutkan pengajaran agama di Mushola Gebang.

Halaman:

Editor: Rizqillah

Sumber: YouTube Jurnal Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X