Begitu juga untuk para penari laki-laki. Mereka menggunakan busana adat Jawa lengkap. Seperti blangkon, beskap, batik, sewek, dan sepatu slop.
Laki-laki yang turut serta dalam tarian tersebut juga memperindah dirinya dengan aksesoris seperti keris dan bros.
Biasanya, Tari Tayub ini tampil di sebuah padepokan. Tarian yang konon sudah ada sejak zaman Sunan Kalijaga ini tampil di Padepokan Langen Langen Tayub.
Saat ini tarian tersebut sudah tidak digunakan sebagai bentuk ritual seperti ketika pertama kali muncul.
Namun warga Nganjuk tetap antusias untuk menunggu beberapa momen pagelaran Tari Tayub yang menghibur.
Meski di zaman modern, tarian ini masih dilestarikan. Salah satunya melalui Padepokan Langen Tayub.***
Artikel Terkait
Nganjuk Mendadak Jadi Destinasi Wisata Religi di Bulan Suro, Lokasi Ini Ramai Dikunjungi Peziarah Meski Letaknya Ada di Ketinggian
Ayo ke Jember! Nikmati Serunya Selamatan Desa dan Petik Laut Puger Akhir Pekan Ini, Bisa Berlibur ke Pantai Sambil Belajar Sejarah
Sejarah Pabrik Mesiu di Kotagede Dibangun Sri Sultan Hamengku Buwono II yang Dimanfaatkan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa
Kenapa Bima Tak Suka Bicara Halus dan Sopan ke Para Dewa? Ada Hikmah dari Dakwah Sunan Kalijaga
5 Simbol Rukun Islam dalam Pandawa, Bukti Kejeniusan Sunan Kalijaga dalam Dakwah Islam
Siapa Sunan Ngatas Angin? Waliyullah Penyebar Agama Islam di Nganjuk, Masih Satu Keturunan dengan Syekh Jumadil Qubro?