Sesampainya di pelantaran makam, pengunjung diharuskan melepas alas kaki.
Di pintu masuk utama, terdapat sebuah masjid tua dengan bedug berusia ratusan tahun.
Tidak jauh dari masjid, terdapat sebuah pendopo yang dihuni oleh juru kunci.
Di sini, pengunjung bisa meminta izin untuk masuk dan menyampaikan niat mereka berziarah.
Setelah mendapatkan izin, pengunjung akan melanjutkan perjalanan melalui jalan yang dikelilingi oleh ratusan makam pengikut dan kerabat Sunan Pandanaran.
Tujuan utama adalah Cungkup Makam Sunan Pandanaran, tempat tertinggi di area makam.
Di sini, Sunan Bayat, istri, keluarga, dan pengikut terdekatnya dimakamkan dalam bangunan kayu yang dikelilingi kain putih.
Di sekitar makam, terdapat dua gentong tua yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Bayat saat masih hidup.
Seluruh bangunan di kompleks makam ini terjaga dengan baik, memperkuat nuansa sejarah yang kental.
Dikenal sebagai Ki Ageng Pandan Arang sebelum menjadi Sunan Pandanaran, ia memiliki peran penting dalam sejarah Kota Semarang dan penyebaran agama Islam di Jawa.
Setelah menjabat sebagai bupati Semarang kedua, ia akhirnya menetap di Tembayat (sekarang Bayat) dan menyebarkan ajaran Islam di bawah bimbingan Sunan Kalijaga.
Karena kesaktiannya, ia berhasil mengajak banyak orang untuk memeluk Islam, dan dikenal dengan berbagai nama yakni Sunan Tembayat, Sunan Bayat, dan Sunan Pandanaran.
Artikel Terkait
Asal-usul Sego Jangkrik, Kuliner Kesukaan Sunan Kudus yang Isinya Bukan Pakai Jangkrik, tapi Daging...
Mulai Langka, Begini Cara Buat Kupat Ketheg, Kuliner Warisan Sunan Giri yang Cuma Ada di Gresik
Amalan Minta Uang Kontan Via 7 Malaikat, Ijazah Keturunan Sunan Drajat Ke-14, Kiai Abdul Ghofur Lamongan
Siapa Mbah Bayat? Inilah Sosok Sunan Tembayat, Anak Bangsawan asal Semarang yang Berguru ke Sunan Kalijaga
3 Kisah Unik Masjid Gholo di Klaten, Dibangun Murid Sunan Kalijaga, Suara Adzannya Bisa Terdengar Sampai Demak?