Aris Munandar, sejarawan dan arkeolog menyebutkan bahwa leluhur Sunda Kuno saat itu tak membutuhkan candi untuk peribadatan, namun mereka hanya membangun batuan melingkar yang ditegakkan diatas tanah.
Melihat banyaknya jumlah circle stone di Desa Jahiyang ini maka diprediksi bahwa tempat itu merupakan tempat berkumpulnya para resi dan para raja untuk menghadap Sang Hyang Tunggal, atau Tuhan Yang Maha Esa.
Di area circle stone tersebut kemudian ditemukan beberapa tanaman yang disebut sebagai tanaman para Dewa seperti kecubung, gadung dan tanaman lainnya yang dipercaya sengaja ditanam disekitar circle stone untuk keperluan ibadah.
Dipercaya, sebelum mereka melakukan ibadah, terlebih dahulu akan mengkonsumsi tanaman-tanaman tersebut untuk menciptakan efek halusinasi untuk bertemu dengan arwah leluhur serta Sang Hyang Tunggal.
Dari uraian di atas, bisa dilihat bahwa orang-orang kuno mengkonsumsi kecubung untuk hal-hal yang bersifat ketuhanan, suci dan sakral.
Namun seiring zaman menjadi berubah fungsi, kecubung bukan tanaman suci lagi sebagai perantara manusia bertemu Tuhan namun menjadi tanaman pembawa maut bagi pemakainya.***
Artikel Terkait
3 Perempuan Penguasa Nusantara yang Jarang Orang Tahu, Salah Satunya Membawa Majapahit Menaklukan Sumatera dan Bali Lewat Sumpah Palapa
Di Mana Wilayah Dakwah Sunan Ampel? Dijuluki Wali Songo Paling Kreatif dan Up To Date dalam Sebarkan Ajaran Islam
Apa Itu Kecubung yang Viral di Banjarmasin? Berikut 5 Fakta Menarik Buah ‘Devils Breath yang Viral di X
Apa Manfaat Kecubung bagi Manusia? Berikut 5 Khasiat Tanaman Berbentuk Terompet yang Viral di X, Bisa Mengatasi...
Fakta Menarik Mendoan, Gorengan Setengah Matang Asli dari Banyumas, Punya Sejarah Unik
3 Julukan Indonesia di Mata Dunia: Surga di Bumi yang Jadi Sasaran Para Wisatawan dari Seluruh Dunia