Kamis, 4 Juni 2026

Kisah Kecubung Tanaman Para Dewa, Dulu Dipakai Ritual Pelengkap Bertemu Tuhan Kini Jadi Pembawa Maut

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Jumat, 12 Juli 2024 | 18:45 WIB
Tanaman kecubung yang beracun dan beri efek halusinasi/ tangkapan layar X @tanyakanrl.
Tanaman kecubung yang beracun dan beri efek halusinasi/ tangkapan layar X @tanyakanrl.

 

SketsaNusantara.id - Kecubung memakan korban lagi, 2 orang meninggal dunia dan 35 lagi dirawat di rumah sakit di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Hal ini tidaklah mengherankan karena kecubung merupakan tanaman yang mengandung racun berbahaya dan juga zat halusinogen yang mengandung efek halusinasi yang luar biasa.

Namun tahukah anda bahwa tanaman kecubung sejak zaman purba sudah digunakan oleh para tokoh agama bukan untuk sekedar mabuk dan bersenang-senang namun untuk menimbulkan efek halusinasi untuk bertemu Tuhan?

Baca Juga: Rahasia Trik Psikologi Isopraxism, Modal 1 Teknik Komunikasi Bisa Dapat Informasi Besar Tanpa Disadari

Seperti dilansir SketsNusantara.id dari kanal YouTube Angelick Vaulina, di Desa Jahiyang, Tasikmalaya ditemukan batuan melingkar atau circle stone yang diduga merupakan tempat berkumpulnya raja dan resi untuk menghadap Tuhan.

Rupanya disekitar tempat pemujaan itu ditemukan sejumlah tanaman yang disebut sebagai tanaman para dewa, yang mengacu pada makna religius yang dikaitkan dengan budaya primitif diseluruh dunia.

Tanaman para dewa tersebut mengandung zat halusinogen atau pengubah pikiran yang dianggap suci dan dikonsumsi dalam ritual keagamaan.

Tanaman para dewa ini dianggap suci dan digunakan dalam ritual keagamaan dalam upaya mencapai komunikasi dengan Tuhan, Dewa atau roh leluhur.

Baca Juga: Kecubung, Tanaman Obat Peninggalan Majapahit yang Viral Usai Disalahgunakan, Ternyata Bermanfaat untuk Lingkungan!

Tujuan penggunaan tanaman para dewa ini untuk memunculkan efek halusinasi agar bertemu arwah leluhur.

Untuk itulah disekitar batu melingkar di Jahiyang ini ditemukan beberapa tanaman bersifat halusinogen seperti kecubung, gadung serta pohon yang mengandung getah berwarna merah seperti darah dan berbau menyengat.

Di Jahiyang ditemukan batu melingkar yang dipercaya berasal dari abad ke 14 yang kemungkinan berasal dari leluhur Sunda Kuno yakni kerajaan Galuh Purba, yang merupakan kerajaan tertua di pulau jawa.

Galuh Purba disebut berada di wilayah Gunung Slamet yang dipercaya merupakan induk dari kerajaan-kerajaan berikutnya di wilayah Jawa Dwipa.

Di Desa Jahiyang itulah ditemukan batuan melingkar atau circle stone yang dipercaya bersal dari era Kerajaan Sunda Kuno.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: YouTube Angelick Vaulina

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X