Kamis, 4 Juni 2026

Sendang Unik Peninggalan Raden Nur Rahmat Lamongan, Tercipta dari Keris Menancap Di Tanah, Ketika Dicabut Keluar Sumber Mata Air

Photo Author
Gogot Cahyo Baskoro, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 6 Juli 2024 | 10:41 WIB
Situs makam Sendang Duwur di Lamongan. terdapat sebuah sendang peninggalan Raden Nur Rahmat alias Sunan Sendang.  (BPCB Jatim)
Situs makam Sendang Duwur di Lamongan. terdapat sebuah sendang peninggalan Raden Nur Rahmat alias Sunan Sendang. (BPCB Jatim)

SketsaNusantara.id- Jejak penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa, khususnya di Jawa Timur masih terus lestari dan terawat hingga sekarang.

Termasuk sendang di Lamongan peninggalan Raden Nur Rahmat, yang menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut.

Yang unik, masyarakat meyakini Sendang Duwur ini tercipta dari sebuah keris yang mennacap di tanah.

Baca Juga: Rangkaian 1 Suro, Mengulik Tradisi Untuk Mengenang Sunan Kudus Wali Songo, Ini yang Dilakukan Ketika Masuk 10 Muharram

Setelah keris dicabut, keluar mata air yang cukup besar hingga membentuk sebuah sendang, yang disebut Sendang Duwur.

Situs Makam Sendang Duwur

Sendang Duwur, terletak di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, ± 4 km berada di sebelah tenggara Desa Paciran.

Tepatnya, Sendang Duwur  berada di sebuah bukit Amituno atau Tunon berketinggian ± 50 – 70 di atas permukaan laut. 

Baca Juga: Sambut 1 Suro Sekaligus Mengenang Jasa Wali Songo, Apa yang Dilakukan Dengan Kain Mori Makam Sunan Kudus?

Tak jauh dari lokasi, juga terdapat komplek situs makam, yang sekaligus menjadi tempat peristirahatan terakhir Raden Nur Rahmad.

Raden Nur Rahmat tinggal di Desa Sedayu Lawas, tepatnya di Kecamatan Brondong. Beliau adalah adalah putera dari Abdul Qohar Bin Malik Bin Syeikh Abu Yazid Al Baghdi keturunan raja-raja Persia dari Iraq.

Raden Nur Rahmad memiliki Ibu Dewi Sukarsih, puteri Tumenggung Joyo di Sedayu Lawas.

Baca Juga: Warga Kudus Merapat Lur! Jadwal dan Lokasi Rangkaian 1 Suro Sampai 10 Muharram, Tradisi Kenang Sunan Kudus Wali Songo

Setelah ayahnya wafat, Raden Nur Rahmad bersama ibunya kemudian pindah ke Dusun Tenon untuk menyebarkan Islam di sekitar daerah tersebut.

Halaman:

Editor: Gogot Cahyo Baskoro

Sumber: BPCB Jatim

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X