Yang unik, situs Makam Sendang Duwur ini terbagi menjadi empat halaman, yang berada di sebelah utara dan barat Masjid sendang Duwur.
Masing-masing halaman dibatasi dengan pagar dan pintu gerbang sebagai jalan masuknya menuju lokasi.
Pola tata letak keempat halaman tersusun ke belakang dengan makam Raden Nur Rahmat atau lazim disebut Sunan Sendang berada di halaman paling belakang.
Yang menarik, kompleks situs Makam Sendang Duwur terbuat dari bangunan bercorak perpaduan Hindu dan Islam.
Dihiasi pula dengan berbagai ornamen dan hiasan indah yang masih bisa nikmati hingga sekarang ini.
Tercipa dari Keris
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman BPCB Jatim, masyarakat setempat meyakini proses terciptanya Sendang Duwur sangat unik.
Dikisahkan bahwa setelah sampai di Tenon, Raden Nur Rahmad bersama ibunya, Dewi Sukarsih kemudian membangun sebuah masjid untuk kepentingan syiar Islam.
Sayangnya, setelah masjid berdiri, ternyata tidak terdapat sumber air untuk berwudlu di sekitar lokasi tersebut.
Karenanya, Raden Nur Rahmat kemudian berihtitar menggali sumur di selatan masjid dengan kedalaman sekitar 35 meter yang diberi nama sumur Giling berkedalaman.
Yang unik, peristiwa tersebut tercatat dalam naskah berhuruf Arab pegon yang disimpan warga setempat, Masrur Hasan.
Dalam naskah tersebut tertuli: “Sampun lami-lami boten wonten toya kang celak, wonten manjing asar ningali kukus, lajeng dipun dudhuk sitinipun nuten kinarya sumur.