Sampunipun lebet wonten duwung ngadeg peksinipun (keris) kacabut medal sumberipun toya langkung agung”.
Bila diartikan secara bebas, maksudnya adalah sebagai beriku; sudah mana tidak ada air yang dekat (masjid). Saat menjelang Sholat Ashar terlihat ada asap (dari atas tanah).
Tanah tersebut kemudian digali untuk membuat sebuah sumur. Setelah dalam, ternyata diketemukan sebuah keris yang berdiri.
Begitu keris dicabut, keluarlah sumber mata air yang sangat besar. Mata air itulah yang kemudian diberi nama Sendang Duwur.
Atas peristiwa tersebut, akhirnya Raden Nur Rahmad dikenal warga sekitar dengan sebutan Sunan Sendang.
Singkat cerita, setelah Sunan Sendang wafat, jasadnya dimakamkan di sebelah barat Masjid Sendang Duwur.***