Tradisi Malam 1 Suro memiliki akar sejarah sejak masa Sultan Agung yang menyusun sistem penanggalan Jawa dengan menggabungkan unsur kalender Saka dan kalender Hijriah.
Hingga kini, tradisi tersebut masih dijaga oleh Keraton Surakarta sebagai bagian dari warisan budaya Jawa.
3. Diikuti Seluruh Abdi Dalem Keraton
Kirab Malam 1 Suro melibatkan ratusan abdi dalem Keraton Surakarta yang berjalan kaki mengelilingi rute tertentu di kawasan kota.
Prosesi berlangsung dengan suasana khidmat dan tertib sebagai simbol penghormatan terhadap tradisi leluhur.
4. Diawali dengan Doa Bersama
Berdasarkan keterangan yang diunggah akun Instagram Balaikota Solo @balaikota.solo, kirab diawali dengan doa bersama yang dipanjatkan di lingkungan keraton.
Prosesi ini menjadi simbol harapan agar masyarakat memperoleh keselamatan dan keberkahan pada tahun yang baru.
5. Kebo Bule Kyai Slamet Menjadi Cucuk Lampah
Salah satu daya tarik utama kirab adalah kehadiran Kebo Bule Kyai Slamet yang berjalan paling depan sebagai cucuk lampah atau penuntun jalan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Pusat Studi Budaya Universitas Budi Luhur, keberadaan Kebo Bule Kyai Slamet telah lama menjadi bagian penting dari tradisi Kirab 1 Suro dan selalu dinantikan masyarakat
6. Dilaksanakan dalam Suasana Hening
Berbeda dengan pawai budaya pada umumnya, peserta kirab menjalani prosesi dalam suasana tenang dan minim percakapan.
Artikel Terkait
Kebo Bule Kyai Slamet jadi Tokoh Utama Tradisi Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta, Kenapa? Alasannya...
Digelar Malam Ini! Cek Rute Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta, Patuhi Aturan Penting Ini
Mengenal Masjid Sulthonain, Masjid Bersama Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta
Ternyata Pengemis Awal Mulanya dari Keraton Surakarta, Ada Hubungannya dengan Hari Kamis?
6 Tradisi Malam 1 Suro Masyarakat Jawa: Ada Pawai Obor hingga Kirab Kebo Bule Keraton Surakarta, di Tatar Sunda Lakukan Ini
4 Fakta Wayang Orang Sriwedari, Seni Pertunjukan Khas Surakarta yang Dibentuk Sejak 1911, Tetap Eksis hingga Kini
4 Tradisi Sambut Nuzulul Quran di Indonesia, Ada Seribu Tumpeng di Kraton Surakarta hingga Sorban Berjalan di Bromo