SketsaNusantara.id - Pengemis merupakan orang yang meminta-minta yang sering ditemui di jalan.
Pengemis ini memang ada yang benar-benar membutuhkan dan ada juga yang memang pekerjaannya sebagai pengemis.
Lantas bagaimana awal mulanya bisa ada seorang pengemis yang meminta-minta?
Baca Juga: Mengenal Masjid Sulthonain, Masjid Bersama Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta
Pengemis awalnya berasal dari kata wong kemis atau wong ngemis yang kemudian diserap dalam Bahasa Indonesia menjadi pengemis.
Yang artinya dalam Bahasa Indonesia pengemis adalah orang yang meminta-minta.
Dilansir SketsaNusantara.id dari video TikTok @gejapramono, awalnya bermula dari raja ke-10 Surakarta setiap hari Kamis melakukan serangkaian upacara adat untuk menyambut hari Jumat.
Hal ini dikarenakan hari Jumat merupakan hari besar umat beragama Islam.
Upacara tersebut disebut Kemisan dan diadakan rutin hingga sekarang yang dilakukan dengan raja keluar dari Keraton Surakarta.
Raja keluar dari kraton dalam rangka meninjau keadaan masyarakat dan dalam perjalanan tersebut raja ke-10 selalu membagikan uang koin kepada masyarakat yang disebut juga dengan udhik-udhik.
Warga sangat antusias sehingga setiap mendengar kereta kuda mereka akan keluar rumah dan segera berjongkok untuk menghormati raja dan menanti uang disebar.
Lambat laun orang yang menerima sedekah raja tersebut disebut dengan wong kemisan.
Karena mereka selalu menunggu raja setiap hari kamis yang kemudian disingkat menjadi wong ngemis.
Artikel Terkait
5 Fakta Menarik Kebo Bule Kyai Slamet Kesayangan Pakubuwono II yang Ikut Kirab 1 Suro Keraton Surakarta, Kerbau Keramat?
5 Fakta Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta: Jumlah dan Jenis Hewan, Pusaka, Waktu, Rute, hingga Ritual yang Dilakukan
Kebo Bule Kyai Slamet jadi Tokoh Utama Tradisi Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta, Kenapa? Alasannya...
Digelar Malam Ini! Cek Rute Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta, Patuhi Aturan Penting Ini
Dulu Toko Ganja, Kini Jadi Mushola, Kisah Langgar Merdeka di Surakarta yang Tidak Mempan Dibom Belanda
Surakarta dan Yogyakarta Dibagi Tidak Berdasarkan Luas Wilayah? Ustadz Salim A Fillah Ungkap Rahasianya