SketsaNusantara.id - Legenda Aji Saka menempati posisi penting dalam khazanah budaya Jawa.
Kisah tersebut menjelaskan asal mula aksara Jawa yang dikenal sebagai dhentawyanjana. Cerita ini diwariskan lintas generasi melalui tradisi lisan dan naskah kuno.
Dalam buku Hikayat Bumi Jawa, Aji Saka digambarkan sebagai kesatria sakti dari wilayah Jawa Tengah. Ia dikenal memiliki kesaktian, keteguhan hati, serta kebijaksanaan. Dalam pengembaraannya, ia ditemani dua abdi setia, Dora dan Sembada.
Baca Juga: Sego Wiwit: Sajian Ritual Petani Jawa Penanda Awal Panen yang Menyimpan Sejarah dan Makna Budaya
Suatu hari, Aji Saka meninggalkan Pulau Majethi untuk berkelana. Dora ikut menemaninya dalam perjalanan jauh tersebut. Sementara Sembada ditinggalkan untuk menjaga keris pusaka di Pegunungan Kendeng.
Sebelum berangkat, Aji Saka berpesan agar pusaka itu tidak diberikan kepada siapa pun. Keris hanya boleh diserahkan saat Aji Saka sendiri datang mengambilnya. Pesan itu dipegang teguh oleh Sembada.
Pada masa itu, Negeri Medang Kamulan dikenal makmur dan tenteram. Raja yang memerintah bernama Prabu Dewata Cengkar. Ia semula digambarkan bijaksana dan memperhatikan kesejahteraan rakyat.
Baca Juga: Resep Rawon Khas Jawa Timur: Cocok Disantap Waktu Berbuka Puasa
Keadaan berubah setelah peristiwa di dapur istana. Seorang juru masak terluka saat memasak. Darah dan potongan kulitnya tercampur dalam sup raja.
Tanpa sengaja, sup itu disantap Dewata Cengkar. Sang raja merasa masakan tersebut sangat lezat. Sejak saat itu, ia berubah menjadi pemakan daging manusia.
Setiap hari, rakyat diperintahkan menjadi santapan. Negeri Medang Kamulan pun perlahan ditinggalkan penduduknya. Suasana berubah mencekam dan sunyi.
Dalam pengembaraan, Aji Saka bertemu seorang pengungsi dari Medang Kamulan. Lelaki paruh baya itu menceritakan kebengisan sang raja. Cerita tersebut membuat Aji Saka tergerak menuju Medang Kamulan.
Sesampainya di istana, Aji Saka menawarkan dirinya sebagai santapan. Namun ia mengajukan satu permintaan. Ia meminta sebidang tanah seluas sorban yang dikenakannya.
Permintaan itu disanggupi karena sorban terlihat kecil. Saat sorban ditarik, kain itu terus memanjang tanpa henti. Hingga akhirnya meliputi seluruh wilayah kerajaan.
Artikel Terkait
Museum Rumah Budaya Tembi di Bantul: Ruang Hidup Sejarah Jawa yang Mandiri, Nirlaba, dan Terus Menghidupkan Tradisi Lokal
Desa Wisata Pentingsari Sleman, Pelopor Wisata Desa Lereng Merapi dengan Aktivitas Bertani, Budaya Jawa, dan Alam Sejuk
Bir Jawa, Minuman Tradisional Kraton Yogyakarta Hasil Akulturasi Budaya Favorit Sultan Hamengkubuwono VIII
Di Balik Lawakan Ludruk Jawa Timur, Ada Nilai Islam yang Disampaikan Lewat Cerita, Musik, dan Dialog