SketsaNusantara.id - Kontroversi kiblat Masjid Agung Demak menjadi perhatian publik setelah dilakukan pengukuran ulang arah kiblat dengan metode ilmiah.
Masjid bersejarah peninggalan Kerajaan Islam Jawa ini berada dalam sorotan karena hasil verifikasi berbeda dari arah bangunan lama.
Isu ini mencuat kuat setelah pengukuran ulang yang melibatkan berbagai pihak. Perbedaan pandangan muncul di tengah masyarakat Demak. Sebagian menerima hasil ilmiah, sementara lainnya menolaknya.
Fairuz Sabiq dalam buku Sunan Kalijaga & Mitos Masjid Agung Demak mencatat bahwa bangunan ini memiliki posisi geografis di 6˚ 53’ 40.3˝ LS dan 110˚ 38’ 15.3˝ BT. Lokasi ini menjadi dasar perhitungan ulang arah kiblat secara astronomis.
Upaya pelurusan arah kiblat pertama kali dilakukan pada 15-16 Juli 2008. Pengukuran dilakukan menggunakan metode rashdulqiblat. Kegiatan ini dilakukan terbatas dan tidak diumumkan kepada masyarakat luas.
Dua tahun kemudian, pengukuran ulang kembali dilaksanakan pada 15-16 Juli 2010.
Baca Juga: Tahun Berdiri Masjid Agung Demak Masih Diperdebatkan, Inilah Jejak Sejarah dan Petunjuk yang Tersisa
Proses ini melibatkan masyarakat, ormas, ulama, dan unsur pemerintah. Metode yang digunakan mencakup Rashdulqiblat, theodolit, serta GPS.
Pengukuran dilakukan oleh Tim Verifikasi Arah Kiblat Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Tim ini dipimpin oleh KH. Drs. Slamet Hambali, M.S.I. dan KH. DR. Ahmad Izzuddin. Hasilnya menunjukkan adanya pergeseran arah kiblat.
Hasil pengukuran ulang arah kiblat menyatakan, bahwa arah kiblat Masjid Agung Demak kurang 12˚ 1’ ke arah utara.
Temuan tersebut memicu respons beragam di masyarakat Demak. Sebagian menerima hasil pengukuran dan menganggap perlu penyesuaian arah shalat. Sebagian lainnya menolak hasil tersebut dan mempertahankan arah lama.
Melihat kondisi tersebut, takmir Masjid Agung Demak menggelar musyawarah. Musyawarah melibatkan ulama, MUI Kabupaten Demak, Kemenag setempat, dan unsur masyarakat. Agenda utama membahas penetapan arah kiblat masjid.
Hasil musyawarah menunjukkan adanya perbedaan sikap. Sebagian peserta menyetujui penerapan hasil pengukuran ulang. Sebagian lainnya tidak sepakat dengan perubahan arah kiblat.
Artikel Terkait
Viral, Oknum Guru SMP di Demak Tendang Kepala Siswa 2 Kali hingga Lebam, Ternyata Cuma Gara-gara Siulan!
Kronologi Oknum Guru SMP di Demak Tendang Kepala Siswa hingga Lebab, Polres Demak: Pelaku Marah dan...
6 Fakta Tindak Kekerasan oleh Oknum Guru SMP di Demak Jawa Tengah, Dipicu Hal Sepele hingga Diamankan Polres Demak
Happy Ending? Kasus Guru SMP di Demak yang Tendang Siswa Berakhiri Damai, Orang Tua Korban: Saya Maafkan
Maafkan Oknum Guru SMP di Demak yang Tendang Kepala Anaknya, Orang Tua Korban: Saya Maafkan dengan 2 Syarat...