Tak hanya itu, seni wayang orang juga berkembang pesat. Beberapa lakon populer di era itu antara lain Pragulamurti, Petruk Dadi Ratu, Angkawijaya Krama, Jaya Semedi, dan Pregiwa-Pregiwati.
Sri Sultan Hamengku Buwono V wafat pada 5 Juni 1855 dan dimakamkan di Astana Besiyaran, Pajimatan Imogiri.
Saat wafat, permaisuri pertamanya belum memiliki keturunan, sementara permaisuri kedua, GKR Sekar Kedhaton, sedang mengandung.
Takhta kemudian diteruskan oleh adiknya, Raden Mas Mustojo, yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono VI.
Warisan kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono V memperlihatkan sisi lain dari sejarah Jawa bahwa kekuatan tak selalu datang dari peperangan, melainkan juga dari kebijaksanaan, seni, dan kemanusiaan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Kenapa Geplak Bantul Wajib Jadi Oleh-Oleh Wajib dari Yogyakarta? Ini Cerita dan Daya Tariknya
Warung Legendaris Yogyakarta sejak 1945 yang Bikin Orang Rela Antre Setiap Malam demi Semangkuk Bakmi Hangat
Sarapan di Bantul? Coba Soto Kemasan Yogyakarta, Unik Pakai Kemangi dan Tahu Bacem sejak 1963
Bukan karena Kotor, Ini Alasan Mie Lethek dari Bantul Yogyakarta Dibiarkan Berwarna Kusam
Warung Susu Segar di Yogyakarta Harga Mahasiswa, Cita Rasanya Bikin Kangen Tiap Malam