Kamis, 4 Juni 2026

Jadi Raja saat Masih Berusia 3 Tahun, Begini Cara Sri Sultan Hamengku Buwono V Menyelamatkan Yogyakarta Tanpa Pertumpahan Darah

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 8 November 2025 | 17:00 WIB
Sri Sultan Hamengku Buwono V. (kratonjogja.id)
Sri Sultan Hamengku Buwono V. (kratonjogja.id)

Disebut ‘Perang Jawa’ karena Pangeran Diponegoro berhasil mengobarkan perlawanan yang menggerakkan hampir seluruh penduduk berbahasa Jawa di Pulau Jawa bagian tengah dan selatan.

Pasukan kolonial Belanda mengerahkan ribuan infanteri dan artileri. Namun, baru pada tahun 1827, di bawah pimpinan Jenderal De Kock, pasukan Belanda berhasil mempersempit ruang gerak laskar Diponegoro di wilayah Kulon Progo, Kedu Selatan, dan Bagelen.

Akhirnya, pada 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap di Wisma Residen Kedu. De Kock dengan segala cara berhasil menangkap Pangeran Diponegoro di Wisma Residen Kedu. Sang pangeran kemudian diasingkan hingga akhir hayatnya di Makassar pada 8 Januari 1855.

Setelah perang berakhir, Sri Sultan Hamengku Buwono V berupaya menata kembali stabilitas Yogyakarta. Ia memilih pendekatan diplomatis dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Langkah ini dikenal sebagai taktik perang pasif, yaitu bentuk perlawanan tanpa kekerasan.

Sultan berharap kerja sama yang lebih dekat antara keraton dan pemerintah kolonial dapat menjaga keamanan serta kesejahteraan rakyat.

Pendekatan ini membawa masa damai yang panjang bagi Yogyakarta. Pada masa tenang inilah Sultan lebih banyak mencurahkan perhatian pada pengembangan seni dan sastra istana.

Salah satu karya besar di masa pemerintahannya adalah Serat Makutha Raja, naskah yang berisi prinsip dasar seorang raja yang adil dan berpihak pada rakyat.

Karya ini menjadi rujukan bagi raja-raja selanjutnya di Kesultanan Yogyakarta dan juga pemimpin di luar keraton.

Serat tersebut terinspirasi dari Kitab Tajussalatin, yang diterjemahkan pada masa Hamengku Buwono V. Dari naskah ini pula lahir karya lain seperti Suluk Sujinah, Serat Syeh Tekawardi, dan Serat Syeh Hidayatullah.

Selain sastra, Sultan menunjukkan minat besar pada dunia tari dan musik. Ia bahkan memimpin langsung komunitas tari istana dan dikisahkan turut menjadi penari.

Pada masanya, ia menciptakan Gendhing Gati, komposisi musik yang memadukan instrumen diatonis seperti terompet, trombon, suling, dan tambur dengan karawitan Jawa.

Gendhing ini biasa dimainkan dalam tarian Bedaya atau Serimpi saat penari memasuki ruang pertunjukan.

Keunikan lain di masa pemerintahannya adalah pembentukan kelompok Bedaya Kakung, yaitu versi laki-laki dari tari Bedaya yang biasanya dibawakan oleh penari perempuan.

Selain itu, Sultan juga menciptakan Tari Serimpi Renggawati, yang mengisahkan perjalanan Prabu Anglingdarma dengan lima penari utama.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: kratonjogja.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X